Pos

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Gambar
Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut jeas tertulis pada Paspor ketika berkunjung ke negeri Belanda atas undangan Ratu Wilhelmina.  Dari dokumen tersebut diketahui bahwa Sultan pernah melakukan kunjungan ke negeri Belanda pada 1938. Benarkah Sultan Bulungan, Paduka Yang Mulia Maulana Muhammad Djalaloeddin pada usia 54 tahun pernah ke negeri Belanda? Keterangan Huib & Harald de Vries dalam situs “scheeps werf de vlijt”[1] menyatakan: “De Sultan is niet lang in Nederland gebleven, in zijn paspoort, dat is bewaard, staat dat hij op 6 oktober 1938 op de terugweg naar IndonesiĆ« al in Colombo was aangekomen”. Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa Paduka Sultan memang pernah pergi ke negeri Belanda pada tahun 1938. Apalagi dalam situs “scheeps werf de vlijt” tertulis: “Vanwege het 40-jarig regeringsjubileum van Koningin Wilhelmina in 1938 was de Sultan van Boeloengan, samen met anderen, in N…

METRO TV : MERAH DI LANGIT BULUNGAN (I)

Gambar
Ada 7 episode film dokumenter yang diproduksi oleh Metro TV. Selain ditayangkan di Televisi - film yang berdurasi masing masing 3,5 menit tersebut bisa diakses secara bebas oleh publik. Pada episode I tokoh tokoh yang ditampilkan adalah : Abdul Kadir A. Gani sebagai saksi sejarah. Beliau mengetahui banyak tentara yang datang namun tidak tahu tujuannya dan ketika Istana dibongkar sudah dalam keadaan kosong tidak berpenghuni. Tokoh berikutnya adalah : H. Datuk Dissan sebagai Raja Muda Bulungan. Beliau menjelaskan bahwa alasan pembongkaran istana Bulungan karena membelot - bergabung dengan Malaysia. Tokoh berikutnya lagi adalah : H. Datuk Rahmansyah Trenggana selaku mantan Camat Tanjung Palas. Beliau mengusulkan agar penghancuran Istana Bulungan tidak menggunakan dinamit karena rumah rumah rakyat akan ikut menjadi hancur. Tokoh : Tengku Ibrahim selaku keluarga Kerajaan Bulungan menjelaskan bahwa masyarakat diikutsertakan dalam penghancuran Istana dan bagi mereka yang tidak ikut menghanc…

KISAH TENTANG BUSI

Gambar
Dua buah benda menyerupai guci yang tersimpan di museum  Kesultanan Bulungan diselimuti kain warna kuning dan pada bagian atasnya dilapisi kain warna orange dengan ikatan warna kuning pada lehernya diberi kertas buffalow warna biru yang dilipat tiga dan tertulis di dalamnya kata "BUSI". Datu Abdul Hamid menunjuk benda benda tersebut seraya menjelaskan duplikat yang diberikan kepada saya sebagai penghargaan dan kenang-kenangan dari Kesultanan Bulungan. Seharusnya duplikat tersebut telah diberikan kepada saya pada saat acara Birau bulan Oktober tahun 2012 akan tetapi oleh karena saya tidak hadir pada waktu itu maka baru pada tanggal 03-02-2013 penghargaan dan kenangan tersebut diberikan di museum Kesultanan Bulungan.
Inilah duplikat Busi yang diberikan kepada saya sebagai penghargaan dan kenangan dari Kesultanan Bulungan. Duplikat tersebut terbuat dari batu pualam dihiasi sebuah pita berwarna kuning yang diikatkan pada leher penutupnya. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepad…

TINJAUAN BUKU

Gambar
Buku Selayang Pandang Birau 2012 yang diterbitkan oleh Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Bulungan ini berisi : Asal usul Suku Bulungan Tanjung Selor, Sejarah Pelaksanaan Birau, PagelaranBirau, Jadwal Kegiatan, Dokumentasi FotoPerayaan Seni dan Budaya, Sejarah SingkatBerdirinya Kabupaten Bulungan, serta Riwayat singkat Para Bupati Bulungan dari Tahun 1960 hingga Bupati yang sekarang. Bupati Bulungan, Drs. H. Budiman Arifin, M.Si. dalam sambutannya pada Buku Selayang Pandang Birau 2012 menyatakan bahwa : "Peringatan hari jadi tersebut tidak saja memiliki makna historis semata, melainkan juga harus dapat menjadi sarana instropeksi dan evaluasi atas segala aktifitas yang telah kita laksanakan sampai dengan saat ini". Dari buku inilah pada bagian I Pendahuluan dapat kita peroleh informasi bahwa Penetapan hari jadi Kota Tanjung Selor dan hari jadi Kabupaten Bulungan bermula dari Seminar yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bulungan pada tangg…

RITUAL BIRAU DI TANJUNG PALAS

Gambar
Bersamaan waktunya dengan acara tasymiah putri pertama dari pasangan suami istri Ibu Naila Qonita dengan Bapak Abdul Azis HR di Tanjung Palas, saya diundang oleh Datu Abdul Hamid untuk mengikuti kegiatan ritual di balai adat sebelah museum Kesultanan Bulungan.  Kesempatan yang bagus pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 ini sungguh tidak mungkin saya sia-siakan apalagi dalam even ini beberapa Sultan dari lain daerah juga hadir. Saya siapkan kamera digital merek Canon tipe IXUS 220 HS dan handycam merek Sony 42x Extended Zoom. Jam 13.00 saya sudah siap di dermaga depan Hotel Assoy Tanjung Selor ternyata Datu Abdul Hamid bersama para Sultan yang diundang didampingi oleh Bapak Wakil Bupati serta pejabat pemerintah daerah sedang menyeberang Sungai Kayan menuju ke museum Kesultanan Bulungan. Diiringi musik tradisional Jawa langkah-langkah para undangan terlihat gemontai memasuki pintu gerbang  balai adat. Berpuluh-puluh puteri gadis dari Kesultanan Bulungan dengan kostum seragam berwarna…

KESULTANAN BULUNGAN BERINTEGRASI KE DALAM NKRI

Gambar
Ketika saya berkunjung ke Museum Kesultanan Bulungan pada hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2012 kebetulan Datu Abdul Hamid (Ketua Dewan Kesultanan) sedang bersiap diri untuk menghadiri undangan Seminar di Jakarta. Kesempatan yang baik untuk mendengarkan penjelasan tentang bagaimana Kesultanan Bulungan berintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut ini adalah transkripsi penuturan beliau:

Pengalaman Transfer Melalui Western Union

The Western Union Company adalah merupakan sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Greenwood Village, Colorado. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1851. Informasi ini baru saya temukan di wikipedia setelah adanya pemberitahuan dari Eko Prayitno yang beralamat di Baszley Bee Basrah Bee, Sekolah Sains Sosial, Universiti Malaysia Sabah, Beg Berkunci 2073, 88999, Kota Kinabalu, Sabah. Dalam sms Eko memberitahu saya bahwa ia telah mengirim uang kepada saya melalui Western Union.Ini adalah kesempatan dan pengalaman baru bagi saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang Western Union. Keesokan harinya saya pergi ke sebuah Bank di Tanjung Selor yang terdapat tulisan "Western Union" ternyata Bank Danamon. Ketika saya sampaikan maksud kedatangan saya untuk mengambil kiriman uang melalui Western Union dari Sabah, saya dipersilahkan duduk dan diminta untuk memberikan kartu tanda pengenal (KTP).
Padahal saya tidak punya tabungan di Bank Danamon. Saya berpikir dan bertanya dalam h…