Senin, 22 Oktober 2007

SEJARAH KERAJAAN BULUNGAN


SEJARAH KERAJAAN BULUNGAN
(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat. Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif).
A. MASA PEMERINTAHAN YANG DIPIMPIN OLEH KEPALA ADAT
Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.
Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.
Kisah Jauwiru dan Lemlasi Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah monumen “telor Pecah”. Monumen tersebut terletak di antara jalan sengkawit dan jelarai, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.
Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera bernama Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun Luwan.
Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir sungai Kipah. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan). Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudanya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara. Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.
Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor ibu kota daerah Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long Mara, Antutan dan Pimping.
Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
B. MASA PEMERINTAHAN YANG DIPIMPIN OLEH KSATRIA/WIRA
Setelah Asung Luwan menikah dengan Datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai Kesatria/Wira.
Datuk Mencang digantikan oleh menantunya yang bernama Singa Laut, yang memerintah tahun 1594-1618.
Untuk pemerintahan selanjutnya adalah Wira Kelana, putra Singa Laut yang memerintah tahun 1618-1640.
Wira Keranda menggantikan ayahnya, Wira Kelana sebagai raja dan memerintah pada tahun 1640-1695.
Pemerintahan selanjutnya adalah Wira Digendung, putra Wira Kelana yang memerintah pada tahun 1695-1731.
Wira Digendung digantikan oleh putranya bernama Wira Amir alias Sultan Amiril Mukminin yang memerintah pada tahun 1731-1777.
C. MASA PEMERINTAHAN YANG PIMPIN OLEH SEORANG SULTAN.
Sultan Amiril Mukminin kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Alimuddin dan memerintah pada tahun 1777-1817.
Sultan Muhammad Kaharuddin menggantikan ayahnya dan memerintah pada tahun 1817-1861. kemudian memerintah lagi pada tahun 1866-1873. Sebenarnya ia telah menyerahkan pemerintahan pada anak pertamanya, Sultan Djalaluddin I (1862-1866). Namun oleh karena sering sakit-sakitan maka kekuasaan pemerintahan diambil alih kembali.
Pemegang kekuasaan selanjut-nya adalah Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1874). Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak pengikut, dan senantiasa menentang kebijakan kerjasama dengan Belanda. Sultan Kalifatul Alam Muhammad Adil mengabaikan seluruh perjanjian yang pernah dilakukan dengan Belanda. Akhirnya ia meninggal dalam suatu perjamuan makan yang diselengga-rakan oleh Belanda.
Sultan Kaharuddin (1874-1889). Pada masa pemerintahannya telah terjalin kerjasama dengan Belanda yang ditandai dengan adanya perjanjian kerjasama (Konterverklaring de tweede II). Pokok perjanjiannya, Belanda dapat menentukan kebijakan Sultan Bulungan termasuk urusan pajak, dan Sultan Kaharuddin terjamin keamanannya. Hal tersebut adalah merupakan langkah awal dari strategi Belanda untuk melakukan penekanan-penekanan yang merugikan rakyat.
Sultan Azimuddin (1889-1899). Meskipun ia bukan putra kandung Sultan Kaharuddin II, pengukuhannya sebagai sultan didukung oleh Gubernur Jenderal Belanda dan mendapat pengesahan melalui Surat Keputusan tertanggal 4 Desember 1889.
Pengian Kesuma (1899-1901) biasa dipanggil dengan sebutan Putri Sibut. Ia adalah istri Sultan Azimuddin. Ia memegang kekuasaan selama 2 tahun.
Sultan Kasimudin (1901-1925). Ia meninggal karena tertembak.
Datu Mansyur (1925-1930). Sesungguhnya ia hanyalah pemangku jabatan sultan. Seharusnya pengganti Sultan Kasimudin adalah Sultan Ahmad Sulaiman yang waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan.
Sultan Ahmad Sulaiman (1930-1931), menduduki jabatan setelah pulang dari mengikuti pendidikan Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan, dan menjalankan pemerintahan selama sembilan bulan.
Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin II (1931-1958). Adalah Sultan Bulungan yang terakhir. Ia membangun istana baru yang disebut dengan Istana III. Meninggal pada tanggal 21 Desember 1958.


DAFTAR RUJUKAN:
  1. Abdurrachman, Dudung, M.Hum. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
  2. Anye, Tulung.1999. Mengenal Suku Dayak Kenyah di Kabupaten Bulungan. Tanjung Selor: F.C. Nirwana.
  3. Arsip Nasional Republik Indonesia. 1976. Pameran Seabad Kearsipan. Menjunjung Pembangunan Bangsa Indonesia. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.
  4. Badan Pengelola Kawasan Pengembang Ekonomi Terpadu Samarinda, Sanga-Sanga, Muara Jawa, Balikpapan (BP. Kapet Sasamba). 1998. Eks Kerajaan Bulungan. (online), (http://www.sasamba.or.id/bulungan.htm diakses tanggal 15 Pebruari 1003)
  5. Brahmantyo, G. 1997. Perwara Sejarah. Malang: Penerbit IKIP Malang.
  6. Dali, H. Yusuf. 1995. Pesona Dan Tantangan Bulungan. Jakarta: LKBN Antara
  7. Danandjaja, James. 1984. Folklor Indonesia, Ilmu Gossip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafitipress.
  8. Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jilid 9. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka.
  9. Hassan, H.E. Mohd. Dkk. 1981. Sejarah Masuknya Agama Islam Di Kabupaten Bulungan. Tanjung Selor: Depag.
  10. Lohanda, Mona. 1998. Sumber Sejarah Dan Penelitian Sejarah. Depok: Puspen Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian U.I.
  11. Moeliono, Anton M. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  12. Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan. 2002. Lintasan Sejarah (Online), (http://www.bulungan.go.id, diakses tanggal 22 September 2002).
  13. Pemerintah Propinsi Daerah Tk. I Kalimantan Timur. 1992. Sejarah Pemerintahan Di Kalimantan Timur Dari Masa ke Masa. Jakarta: Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Timur.
  14. Profil Propinsi. 1992. Profil Propinsi Republik Indonesia. Kalimantan Timur. Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara.
  15. Rempelbergh, M.E. Imprimeur-Libraire in Brussels The Websige of Dynasties out of Eureope (online), (http://www.almanach.be/seach/i/indo_bulungan.htm diakses tangal 4 Juni 2003).
  16. Resink, G.J. 1987. Raja Dan Kerajaan Yang Merdeka Di Indonesia 1850-1910. Jakarta: Djambatan.
  17. Riwut, Cilik. 1958. Kalimantan Memanggil. Jakarta: N.V. Pustaka-Penerbit dan Perceta-kan Endang.
  18. Syahbandi, Drs. Dkk. 1977/1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kaliman-tan Timur. Samarinda: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Penelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
  19. Tim Monografi. 1976. Monografi Kabupaten Bulungan. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Depdikbud.
  20. Van der Ven, Memorie van Overgave. Resident Zind Ooster Afdeeling van Borneo, 1855
  21. Wasis, Widjiono. Ed. 1991. Almanak Jagad Raya. Jakarta: Dian Rakyat.
Artikel ini telah dipakai sebagai referensi (pranala luar) oleh situs Wikipedia

Tautan kesejarahan:

Jumat, 19 Oktober 2007

TEMAN WAKTU KULIAH DI IKIP SURABAYA



SUSIYANTO
Lebaran tahun ini (1428 H), meninggalkan kenangan penuh keharuan. Seorang teman kuliah waktu di FKIP Surabaya tahun 1980 tiba-tiba datang ke rumah saya dengan diantar oleh bapak Sugianto. Ia membawa seorang anak laki-laki, katanya anak yang ke-4 dari 5 orang putra-putrinya. Sekarang ini Ia tinggal di samping Gedung DPR Gg. Jeruk nomor 5, dekat SMP Negeri 5 Tanjung Redeb namun mengajarnya di SMP Negeri Labanan (30 km dari kota) Kabupaten Berau. Bidang studi yang diajarkan adalah PPKn. Kami mengenang teman-teman kuliah dulu seperti : Suwarso, Basori, Undaru Yudiono, Jalal, Waluyo, dan yang lainnya yang masih sedang diingat-ingat. Sesungguhnya kami berkeinginan untuk menyelenggarakan reuni setelah kurang lebih 27 tahun menjalankan tugas mulia sebagai guru, bahkan sekarang ini telah ada yang menjadi kepala sekolah dan pengawas, untuk berbagi pengalaman selama menjalankan tugas. Seingat saya, semua teman-teman yang berangkat ketempat tugas tahun 1981 hanya menerima SK Penempatan dan Ijazah tanpa dilampiri DAFTAR NILAI, karena itulah saya pada tahun 2003 menyempatkan diri untuk berkunjung ke Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan IKIP Surabaya (sekarang UNISA) dengan menunjukkan Ijazah asli serta memberikan foto copynya, maka kemudian dibukakan arsip dan dicetakkan DAFTAR NILAI yang saya minta. Itulah diantara pengalaman yang unik, dan saya patut mengakui bahwa administrasi UNISA (dulu IKIP Surabaya) sangatlah baik. Cerita Susiyanto tentang anak-anaknya pada saya bahwa anak pertama setelah menamatkan belajarnya di Pondok (Balikpapan) sekarang ini di rumah saja, kemudian anak kedua saat ini sedang kuliah di UNMUL Samarinda di Fakultas Keguruan Program Studi Biologi, anak ketiga sedang menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah kelas 3, anak keempat duduk di bangku SMP Negeri 5 Tanjung Redeb kelas I, dan yang terakhir (anak yang kelima) telah berumur 1 tahun, diberi nama Rhey Hana Salsabila. Terakhir sebelum pulang kembali ke Berau, Susiyanto meninggalkan catatan no telpon : (0554) 24779 dan nomor HP : 085247129741.

Selasa, 09 Oktober 2007

Menentukan Arah Kiblat

MENENTUKAN ARAH KIBLAT
Berbicara tentang “kiblat”, kita hanya akan menemukan arti kata pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disunting oleh: Anton Moeliono. Dan pada Ensiklopedi Islam yang diterbitkan oleh: Ichtiar Baroe Van Hoeve – Jakarta, kita hanya akan menemukan dalil dalil tentang arah “kiblat” yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits. Namun sebuah buku saku yang berjudul “MENENTUKAN ARAH KIBLAT” yang ditulis oleh: Sugeng Arianto, S.Pd. menjelaskan bukan hanya arti kata dan dalil-dalilnya akan tetapi juga penjelasan dan petunjuk bagaimana cara menentukan arah kiblat, baik menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan peralatan teknologi yang canggih saat ini. Pada buku saku ini juga dilengkapi dengan gambar: kompas dan Global Positioning System (GPS).
Judul buku : “MENENTUKAN ARAH KIBLAT”
Penulis : Sugeng Arianto, S.Pd.
Tebal buku : 24 halaman
Ukuran : 11,5 cm x 16,5 cm.
Tersedia pada : Perpustakaan SMP Negeri 2 Tanjung Selor
Bisa dipesan melalui e-mail : massugeng_a@yahoo.com
Alamat : Jl. Rambutan Gg. SMA – Tanjung Selor. 77212.
---
Kabar gembira bahwa mulai saat ini (28-03-2010) buku tersebut bisa didownload gratis silahkan klik disini

Minggu, 07 Oktober 2007

Wisata Sejarah Tanah Kuning


MAKOM BERSEJARAH
DI TANAH KUNING
(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
Ada tiga buah makom di Tanah Kuning, yang letaknya tidak jauh dari Masjid Istiqomah (±500 m) ke arah Utara-Barat laut (arah 350°).
1. Makom Pertama, tertulis pada batu nisan nama H. Dt. Jirim, lahir 1315 H, mangkat 1936 M
2. Makom Kedua, tertulis pada batu nisan nama Al Haji Sultan Syarafuddin, mangkat 24 Syawal 1335 H.
3. Makom Ketiga, tertulis pada batu nisan nama Al Hajjah Pangian Ratu, mangkat th 1339 H
Ketiga makom tersebut membujur arah utara-selatan, pada batu nisan tertulis gelar Haji dan angka tahun H (Hijriah) yaitu angka tahun arab yang menunjukkan ciri-ciri makom umat islam. Kompleks makom Islam tersebut adalah termasuk kompleks makom yang dikeramatkan oleh masyarakat di sekitarnya. Bangunan makom tersebut dipagar keliling (pagar terbuat dari kayu) di atas areal tanah berukuran ± 25 m2.
Menurut cerita yang dikisahkan oleh seorang tokoh masyarakat (bapak Abdul Rasyid, wawancara tanggal 27/5/2007): H. Dt. Jirim adalah seorang panglima perang dari Berau yang datang ke Tanah Kuning setelah tinggal selama ± 1 musim panen di suatu daerah yang sekarang disebut Desa Mangkupadi. Nama tersebut sengaja diberikan oleh H. Dt. Jirim ketika musim panen tiba dan tidak satupun bijih padi yang berisi ditemukannya di tanah tempat ia bertanam (“mangku” = kosong; mangkupadi = padi yang tidak berisi).
Mitos yang berkembang saat ini adalah adanya “batu tumbuh” yang sengaja di tempelkan pada bangunan makom dengan menggunakan bahan perekat semen. “batu tumbuh” tersebut bentuknya seperti penis orang dewasa yang sedang birahi. Sebelum ditempel pada bangunan makom, batu tersebut dapat tumbuh semakin panjang meskipun telah dipotong atau dipatahkan beberapa kali.
Cerita rakyat terkait dengan mitos “batu tumbuh” menurut Bapak Saiful Bachry, SE, dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bulungan (Jum’at, 6 Juli 2007 di rumah, tempat tinggalnya Jl. Kamboja Tanjung Selor) menuturkan asal terjadinya batu tumbuh disebabkan oleh kutukan seorang “habib” terhadap Sultan Syarafuddin yang bermaksud mempersunting putri habib dan akan dijadikan istri ke-40. Kutukannya adalah kelak “barang”-nya akan tumbuh di pusara kuburnya.
Berdasarkan penghitungan data angka tahun yang tertulis pada batu nisan, H. Dt. Jirim berusia 20 tahun ketika H. Sultan Sarafuddin mangkat (meninggal) disusul Hajjah Pangian Ratu meninggal empat tahun kemudian. Sedangkan H. Dt. Jirim meninggal pada usia 42 tahun. Keberadaan mereka di Tanah Kuning semasa masih hidup, Raja (Sultan) yang berkuasa di wilayah Kesultanan Bulungan adalah M. Kasimanuddin (1905-1925 M.).
Hubungan kekerabatan antara Kesultanan Bulungan dengan Kesultanan Berau (Sambaliung) dijelaskan dalam Monografi Kabupaten Bulungan (Team Monografi. 1976:2. Monografi Kabupaten Bulungan. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Depdikbud) bahwa Sultan Alimuddin adalah raja kesultanan Bulungan yang memerintah tahun 1777-1817 beristrikan 2 orang yaitu Aji Aisyah dari Tidung dan Pengian Intan dari Kesultanan Sambaliung. Sehingga dengan demikian dapatlah dipahami jika sepuluh atau dua puluh tahun kemudian kerabat dari Pengian Intan menyusup ke dalam wilayah kesultanan Bulungan untuk suatu kepentingan. Apakah Sultan Syarafuddin dengan sengaja bermaksud menguasai wilayah kekuasaan kesultanan Bulungan? Jika benar, maka dugaan ini diperkuat oleh keterangan Cilik Riwut (dalam bukunya yang berjudul: Kalimantan Memanggil. Diterbitkan oleh: NV.Pustaka-Jakarta, tahun 1958) yang menyatakan bahwa Sultan Maulana Muhammad Kaharuddin (1874-1894), cucu yang pertama dari Sultan Yang pertama Kerajaan Bulungan Pernah dipengaruhi oleh Kerajaan Berau yang kerap kali mencoba merampas Bulungan atau Tidung.

Tautan kesejarahan:

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...