Minggu, 07 Oktober 2007

Wisata Sejarah Tanah Kuning


MAKOM BERSEJARAH
DI TANAH KUNING
(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
Ada tiga buah makom di Tanah Kuning, yang letaknya tidak jauh dari Masjid Istiqomah (±500 m) ke arah Utara-Barat laut (arah 350°).
1. Makom Pertama, tertulis pada batu nisan nama H. Dt. Jirim, lahir 1315 H, mangkat 1936 M
2. Makom Kedua, tertulis pada batu nisan nama Al Haji Sultan Syarafuddin, mangkat 24 Syawal 1335 H.
3. Makom Ketiga, tertulis pada batu nisan nama Al Hajjah Pangian Ratu, mangkat th 1339 H
Ketiga makom tersebut membujur arah utara-selatan, pada batu nisan tertulis gelar Haji dan angka tahun H (Hijriah) yaitu angka tahun arab yang menunjukkan ciri-ciri makom umat islam. Kompleks makom Islam tersebut adalah termasuk kompleks makom yang dikeramatkan oleh masyarakat di sekitarnya. Bangunan makom tersebut dipagar keliling (pagar terbuat dari kayu) di atas areal tanah berukuran ± 25 m2.
Menurut cerita yang dikisahkan oleh seorang tokoh masyarakat (bapak Abdul Rasyid, wawancara tanggal 27/5/2007): H. Dt. Jirim adalah seorang panglima perang dari Berau yang datang ke Tanah Kuning setelah tinggal selama ± 1 musim panen di suatu daerah yang sekarang disebut Desa Mangkupadi. Nama tersebut sengaja diberikan oleh H. Dt. Jirim ketika musim panen tiba dan tidak satupun bijih padi yang berisi ditemukannya di tanah tempat ia bertanam (“mangku” = kosong; mangkupadi = padi yang tidak berisi).
Mitos yang berkembang saat ini adalah adanya “batu tumbuh” yang sengaja di tempelkan pada bangunan makom dengan menggunakan bahan perekat semen. “batu tumbuh” tersebut bentuknya seperti penis orang dewasa yang sedang birahi. Sebelum ditempel pada bangunan makom, batu tersebut dapat tumbuh semakin panjang meskipun telah dipotong atau dipatahkan beberapa kali.
Cerita rakyat terkait dengan mitos “batu tumbuh” menurut Bapak Saiful Bachry, SE, dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bulungan (Jum’at, 6 Juli 2007 di rumah, tempat tinggalnya Jl. Kamboja Tanjung Selor) menuturkan asal terjadinya batu tumbuh disebabkan oleh kutukan seorang “habib” terhadap Sultan Syarafuddin yang bermaksud mempersunting putri habib dan akan dijadikan istri ke-40. Kutukannya adalah kelak “barang”-nya akan tumbuh di pusara kuburnya.
Berdasarkan penghitungan data angka tahun yang tertulis pada batu nisan, H. Dt. Jirim berusia 20 tahun ketika H. Sultan Sarafuddin mangkat (meninggal) disusul Hajjah Pangian Ratu meninggal empat tahun kemudian. Sedangkan H. Dt. Jirim meninggal pada usia 42 tahun. Keberadaan mereka di Tanah Kuning semasa masih hidup, Raja (Sultan) yang berkuasa di wilayah Kesultanan Bulungan adalah M. Kasimanuddin (1905-1925 M.).
Hubungan kekerabatan antara Kesultanan Bulungan dengan Kesultanan Berau (Sambaliung) dijelaskan dalam Monografi Kabupaten Bulungan (Team Monografi. 1976:2. Monografi Kabupaten Bulungan. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Depdikbud) bahwa Sultan Alimuddin adalah raja kesultanan Bulungan yang memerintah tahun 1777-1817 beristrikan 2 orang yaitu Aji Aisyah dari Tidung dan Pengian Intan dari Kesultanan Sambaliung. Sehingga dengan demikian dapatlah dipahami jika sepuluh atau dua puluh tahun kemudian kerabat dari Pengian Intan menyusup ke dalam wilayah kesultanan Bulungan untuk suatu kepentingan. Apakah Sultan Syarafuddin dengan sengaja bermaksud menguasai wilayah kekuasaan kesultanan Bulungan? Jika benar, maka dugaan ini diperkuat oleh keterangan Cilik Riwut (dalam bukunya yang berjudul: Kalimantan Memanggil. Diterbitkan oleh: NV.Pustaka-Jakarta, tahun 1958) yang menyatakan bahwa Sultan Maulana Muhammad Kaharuddin (1874-1894), cucu yang pertama dari Sultan Yang pertama Kerajaan Bulungan Pernah dipengaruhi oleh Kerajaan Berau yang kerap kali mencoba merampas Bulungan atau Tidung.

Tautan kesejarahan:

5 komentar:

my friend mengatakan...

mas saya siswa SMPN 1 Tanjung Selor saya mengambil beberapa cerita dari situs ini. saya mengcopy ke blog saya di http://smpn1tanjungselor.blogspot.com/
mohon izinnya.

Tarakan Oye mengatakan...

Jempol deh untuk anda yang banyak mengangkat Sejarah Kesultanan Bulungan, yang anda sendiri dari nama sepertinya bukan Suku Bulungan, sedikit Informasi tentang Kapal Warmond Nara Sumber yang anda cantumkan adalah Kakak Kandung dari Ayah saya MOCHTAR A. SUKUN. Saya ingin kenal anda lebih dekat kalau bisa bertemu langsung.

R14N Tarakan mengatakan...

Cerita yang menarik tentang Polemik antara Kerajaan Berau, Kesultanan Bulungan dan Kerajaan Tidung. Seperti sengaja dikaburkan.

Anonim mengatakan...

Cerita ini sngat menarik..

Anonim mengatakan...

Cerita yg sangat nenarik...saya sngka cerita bapa saya tentang tanah kuning ini hnya cerita kosong tetapi cerita tanah kuning ini memang benar...bapa saya prnah menanam padi dan memancing d tanah kuning tetapi mereka d larikan ke kuala lumpur dan irian barat dan sekarang menetap d sabah.. Sekian terima kasih...

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...