Kamis, 17 Desember 2009

Bintek Adiwiyata 2009


Bimbingan Teknis Adiwiyata 2009 diselenggarakan pada tanggal 15 - 16 Desember 2009 bertempat di Gedung Serbaguna Ex. Kantor Bupati Jln. Agatis Tanjung Selor Kabupaten Bulungan. Nara sumber dan instruktur dalam kegiatan tersebut adalah: Bapak Parus (Drs. Parus, M.Si. dari PUSAT PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP REGIONAL KALIMANTAN), Bapak Marwoto, dan Ibu Ratna. Mereka dengan sangat serius membimbing peserta dari awal kegiatan hingga hari ke-2 sesuai jadwal yang tertera pada surat undangan Bintek tertanggal 10 Desember 2009.

Bapak Parus, sedang menyampaikan materi ...

Pendidikan lingkungan hidup memang perlu diselenggarakan di sekolah-sekolah. Dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan maka pendidikan lingkungan hidup nantinya merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri yaitu mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Kabupaten Bulungan.
Pembagian kelompokpun dilakukan, Bapak Parus membagi kelompok menjadi 4 kelompok: 1). Kelompok Kepala Sekolah dan Komite Sekolah, 2). Kelompok Guru SMA/SMK, 3). Kelompok Guru SD/MIN, dan 4). Kelompok guru SMP yang terdiri :

(a). Sugeng Arianto, S.Pd. [SMPN 2 Tg Selor],HP: 081347913030,
(b). Sarjono, S.Pd. [SMP Negeri 1 Tanjung Selor] 085293097361,
(c). Irma Yuliniancy, S.Pd. [SMP Negeri 2 Tanjung selor] 0552-23291,
(d). Faridah, S.Pd. [SMPN 3 Tanjung Palas] 08125379513,
(e). Estu Widodo, [MTs.N Tanjung Selor] 085752055301,
(f). Rijasa, S.Sos [SMPN 3 Tanjung Palas] 085247219173
(g). Ririn Yuliastui, S.Si [SMPN 1 Tanjung Selor] 08125578499
(h). Sri Rusmiyati, S.Ag. MTs.N Tanjung Selor.[081346260749]

Rabu, 25 November 2009

HUT GURU

          Hari Guru dan Hari PGRI (tanggal 25 November 2009) yang diperingati di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan tahun ini tampaknya menampilkan kesan simpatik. Para pengurus kegiatan cerah ceria dengan seragam PGRI-nya apalagi mereka dengan bangganya menerima dan menyematkan "pin" pada baju bagian dada semua panitia.
          Hari ini kegiatannya adalah ziarah ke makam pahlawan. Pada surat undangan yang dikirim panitia mengisyaratkan agar masing-masing kepala sekolah ditambah 3 orang guru menghadiri acara ini. Makam Pahlawan yang dihuni 36 arwah para pejuang itu kini diramaikan oleh guru-guru yang mewakili sekolah mereka masing-masing. Di areal makam guru-guru berbaris menghadap kubur tempat para pahlawan dimakamkan yaitu arah 330 derajat. Inspektur Upacara hanya memimpin penghormatan kepada arwah para pahlawan, mengheningkan cipta, dan tabur bunga, tidak menyampaikan kata-kata sambutan.
Foto berikut ini adalah barisan guru yang dipimpin oleh Bapak Heryanto, S.Pd. (tidak tampak dalam gambar). Berdiri di ujung sebelah kiri adalah Bapak Kamsah, kemudian ke kanan adalah Bapak Syamsul Bahri dan yang ke-3 adalah Bapak Sugeng Arianto. Selanjutnya nama-nama guru yang hadir dan mengikuti upacara ziarah tercantum pada buku Daftar Hadir Upacara Ziarah yang diletakkan di atas bangku tepi gapura masuk.
          Usai acara Ziarah dilanjutkan dengan acara potong tumpeng bertempat di aula SMA Negeri 1 Tanjung Selor. Acara potong tumpeng berlangsung setelah terlebih dulu Ketua PGRI Bulungan, Bapak H. Masykur Massa menyampaikan kata sambutan kemudian disambung lagi dengan kata sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bulungan, Bapak Haerumuddin, SH., M.AP.


Pengambil gambar : Syahrial
video : Sugeng

Kamis, 24 September 2009

File Arsip & Penulisan Kutipan dari Internet

Menemukan file arsip pada sebuah web biasanya tidaklah mudah oleh sebab itu maka salinlah alamatnya dengan teliti sehingga akan mempermudah dalam pencarian kembali. Hal ini penting apalagi jika mempergunakannya sebagai rujukan dalam penulisan karya ilmiah.
Pelajar dan mahasiswa biasanya hanya menuliskan alamat web (situs) sebagai footnote (catatan kaki), innote (catatan dalam), maupun sebagai rujukan. Padahal setiap situs mempunyai atau terdiri atas banyak halaman dan masing-masing halaman berisi artikel-artikel yang merupakan file arsip dari sebuah web.
Contoh alamat situs yang dipergunakan sebagai rujukan dalam membuat karya ilmiah diantaranya http://www.radartarakan.com adalah situs surat kabar harian yang terbit di Tarakan Kalimantan Timur. Surat kabar ini adalah surat kabar daerah yang merupakan cabang dari surat kabar Jawapos yang terbit di Jawa. Surat kabar ini memberitakan keadaan dan kejadian di daerah Kalimantan Timur disamping kejadian yang bersifat nasional dan internasional. Surat kabar ini pernah memberitakan tentang penetapan Datuk Abdul Hamid sebagai pemangku sultan Bulungan pada hari Senin, 1 Desember 2008.
Bila sebagian isi berita tersebut dikutip maka pada awal atau akhir dari kutipan tersebut harus di bubuhkan catatan kaki atau catatan dalam yang tepat. Artinya bukan saja alamat situs yang ditulis akan tetapi harus dilengkapi lokasi file arsip contohnya http://www.radartarakan.com/berita/index.asp?Berita=BULUNGAN&id=144721. Hal ini akan mempermudah pencarian kembali sumber kutipan baik yang dilakukan oleh pelajar/mahasiswa ataupun oleh guru/dosen pembimbing.
Karena file arsip sering diperbaiki atau bahkan dihapus oleh penerbitnya karena suatu alasan maka pada catatan kaki ataupun catatan dalam juga harus dicantumkan tanggal akses serta nama pengaksesnya.
Contoh alamat situs yang lain adalah http://beeldbank.narionaalarchief.nl situs yang memuat arsip-arsip nasional maupun internasional dari negeri Belanda. Dari situs ini dapat diketahui sebuah foto hitam/putih Sultan Maulana Muh. Djalaluddin dengan lokasi arsip file http://beeldbank.nationaalarchief.nl/na:col1:dat10698. Sultan Maulana Muh. Djalaluddin adalah seorang sultan terakhir dari kerajaan Bulungan dengan masa pemerintahan 1931-1958. Adapun salah satu file arsip Sejarah Kerajaan Bulungan pada situs internet adalah http://sugeng-arianto.blogspot.com/2007/10/sejarah-kerajaan-bulungan.html.
Ada kalanya mahasiswa merasa bingung bagaimana cara penulisan kutipan yang diambil dari internet. Namun apabila mengikuti petunjuk penulisan karya ilmiah, skripsi, tesis yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi tempat mahasiswa kuliah hal tersebut tidak akan terjadi. Berikut ini adalah Tips yang diberikan oleh Dr. Maman Rumanta, M.Si. melalui web site UT Pangkal Pinang, penulisan kutipan yang diambil dari internet.

Nama penulis artikel. Tahun terbit artikel. Judul artikel. Alamat web. Tanggal di download.

Rumanta, Maman. Dr., M.Si. 2010. TIPS SINGKAT PENULISAN LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP)DI UNIVERSITAS TERBUKA. http://pangkalpinang.ut.ac.id/index.php/pkp.html. [28 June 2010].

Demikianlah sedikit tulisan mengenai file arsip pada situs internet dan penulisan kutipan dari internet semoga bermanfaat bagi para pelajar/mahasiswa yang sedang menyusun karya ilmiah.

RUJUKAN:
1). http://www.radartarakan.com/
2). http://beeldbank.nationaalarchief.nl/
3). http://sugeng-arianto.blogspot.com/

Selasa, 18 Agustus 2009

PERJALANAN KE SALIMBATU

(Sugeng Arianto, S.Pd.)
Berawal dari adanya sebuah keiinginan untuk melakukan survey ke makom keramat di Salimbatu, Kabupaten Bulungan akhirnya menjadi terwujud ketika peluang datang. Inilah perjalanan yang mengesankan di hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009. Hari bersamaan dengan kegiatan siswa menerima hasil belajar selama satu tahun pembelajaran. Hari itu para wali kelas telah menyiapkan rapor siswa yang menjelaskan siswa naik kelas atau tinggal kelas. Karena saya bukan wali kelas maka hari tersebut merupakan peluang bagi saya untuk melakukan survey.
Saya memutuskan perjalanan ke Salimbatu menggunakan akses jalan darat ketika saya mengetahui bahwa ada seorang guru SMP Negeri Salimbatu yang tinggal di Tanjung Selor setiap hari naik sepeda motor untuk pergi mengajar. Guru tersebut bernama Aji Isworo kebetulan istrinya adalah teman kerja saya satu kantor (sekolah). Saya menghubungi bapak Aji sehari sebelumnya dan keesokan harinya kami berangkat bersama-sama.
Perjalanan ke Salimbatu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Daratan Tanjung Palas dihubungkan dengan aliran sungai yang cukup lebar (kurang lebih 200 m) untuk sampai di daratan Salimbatu. Perusahaan layanan jasa penyeberangan yang diprakarsai oleh bapak Arif tiada henti pagi hingga malam hari menolong orang yang hendak menyeberang ke Salimbatu ataupun ke Tanjung Palas. Seorang penyeberang bersama kendaraannya (sepeda motor) dikenakan tarif Rp 8.000,00. Keamanan penyeberangan dapat dirasakan langsung oleh penumpang karena di atas perahu yang di desain lebarnya kurang lebih 2,5 m dengan panjang kurang lebih 10 m itu para penumpang merasa nyaman. Sedangkan daya tampung diperkirakan 10 sepeda motor dengan pengendaranya.
Sementara bapak Aji menuju ke SMPN Salimbatu, saya mencari alamat tempat tinggal bapak Abdul Kadir yang biasa dipanggil dengan sebutan Jang Ading. Rumah Jang Ading yang menghadap ke arah 285 derajat itu ternyata termasuk dalam kawasan perumahan di depan kantor Camat di Jalan Datu Perdana. Saya utarakan maksud dan niat saya untuk melakukan survey pada makam Sayid Abdullah Bil Faqih dan makam Sayid Ali Idrus Al Idrus kepada Jang Ading.
Jang Ading tinggal bersama istri dan dibantu oleh pak Herman yang siap disuruh-suruh apa saja dengan tenaga yang dimilikinya. Anak-anak Jang Ading sibuk dengan pekerjaannya, untuk itu ada sebuah HP yang dipegangnya yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk menghubungi mereka manakala sangat diperlukan. Sehubungan dengan maksud dan tujuan saya untuk melakukan survey, maka berceritalah Jang Ading tentang Habib Ali Idrus Al Idrus yang meninggal diperkirakan pada tahun 1900 (HE. Moh. Hasan, 1982).
Habib Ali Idrus Al Idrus sebelum meninggal dunia pernah memberikan kutukan kepada seorang ”Aji” (sebutan gelar kebangsawanan bagi sahabat keluarga Sultan di lingkungan kesultanan Bulungan) bahwa hidupnya akan mengalami kesusahan hingga 7 turunan. Habib Idrus memberi kutukan tersebut karena seorang “Aji” telah merebut mimbar Jum’at yang sedang dipegangnya. Kesombongan dan keangkuhan “Aji” yang demikian itu tidaklah mencerminkan akhlak yang mulia. Pengaruh “Aji” memanglah kuat di masyarakat. Jika penduduk dan seluruh masyarakat mencontoh akhlak yang dimiliki “Aji” maka negeri ini tidaklah akan bisa maju. Demikianlah inti cerita yang disampaikan Jang Ading sebelum saya pamit melanjutkan perjalanan menuju ke makam.
Dari rumah tempat tinggal Jang Ading saya melanjutkan perjalanan ke makam Sayid Ali Idrus Al Idrus dan Sayid Abdullah Bil Faqih. Makam kedua sayid tersebut berada di dataran yang agak tinggi dan dikelilingi makam-makam penduduk setempat. Dari tepi sungai berjarak kurang lebih 200 m. Jalan menuju makam kedua sayid tersebut adalah jalan setapak bersemen yang lebarnya kurang lebih 1 m dan berundak pada bagian dataran yang membukit. Di sebelah kiri-kanan jalan setapak tersebut dibatasi oleh pagar kayu berwarna hijau yang memanjang dari gapura masuk hingga makam. Pada bagian atas gapura masuk bertuliskan: MAKAM KERAMAT BERSEJARAH (baris pertama/atas) SAYID ABDULLAH BILFAQIH & SAYID ALI AL IDRUS (baris kedua/bawah).
Areal makam kedua sayid tersebut tampak terawat, di atas areal makam didirikan bangunan beratap seng sedangkan tiang dan pilar-pilarnya berwarna hijau. Makam Sayid Abdullah lebih tinggi dari makam Sayid Ali. Sebuah papan yang dipasang disana bertuliskan: PENGUMUMAN (baris ke-1) NO 1 TH 1982 (baris ke-2) MELIHAT KEADAAN MAKAM (baris ke-3) SAID ABDULLAH BIL FAQIH (baris ke-4) MAKA TARIKH WAFATNYA DIPERKIRAKAN (baris ke-5) TH 1882. JAGALAH KEBERSIHAN MAKAM INI, (baris ke-6) YANG INGIN MENYUMBANG PERBAIKANYA (baris ke-7) SILAHKAN BERHUBUNGAN DENGAN KAMI. (baris ke-8) TERIMA KASIH (baris ke-8) 20 JUNI 1982 (baris ke-9) TG. SELOR, (antara baris ke-9 dan ke-10) 28 SYA’BAN 1402 (baris ke-10) KEPALA KUA KEC. TG PALAS (baris ke-11) TTD (baris ke-12) H.E MOH HASAN (baris ke-13). Dua papan yang lain yang dipasang di areal makam Sayid Abdullah adalah papan papan yang ditulis dengan huruf berbahasa arab yang berisi shalawat. Meskipun luas areal makam kurang lebih 2 x 3 m persegi, akan tetapi panjang makam Sayid Abdullah kurang lebih 1 m saja membujur ke arah 75 derajat (Timur Laut) dan sebuah batu nisan dari makam tersebut beridiri tegak di sebelah barat daya. Di sebelah makam Sayid Abdullah ada dua buah makam lagi yang ukuran batu nisannya lebih kecil dan pendek.
Areal makam Sayid Ali Idrus Al Idrus tampak lebih luas karena hanya berisi satu buah makam saja. Sebuah papan berwarna putih dengan tulisan berwarna hitam berbunyi: PENGUMUMAN (baris ke-1) NO 1 TH 1982 (baris ke-2) MELIHAT KEADAAN MAKAM (baris ke-3) SAID ALI IDRUS AL IDRUS (baris ke-4) MAKA TARIKH WAFATNYA DIPERKIRAKAN (baris ke-5) TH 1900. JAGALAH KEBERSIHAN MAKAM (baris ke-6) INI, YANG INGIN MENYUMBANG PERBAIKA(baris ke-7) NYA SILAHKAN BERHUBUNGAN DENGAN (baris ke-8) KAMI. (baris ke-8) TERIMA KASIH (baris ke-9) 20 JUNI 1982 (baris ke-10) TG. SELOR, (antara baris ke-10 dan ke-11) 28 SYA’BAN 1402 (baris ke-11) KEPALA KUA KEC. TG PALAS (baris ke-12) TTD (baris ke-13) H.E MOH HASAN (baris ke-14). Di bawah langit-langit tepat di atas makam Sayid Ali dipasang kain berwarna kuning yang diikatkan sudut-sudutnya seperti bentuk kelambu.
Saya ucapkan terimakasih kepada sdr Romy Arianto yang biasa dipanggil dengan sebutan “Memet” yang telah mengantar saya hingga ke area pemakaman. Juga kepada sdr Fahransyah yang biasa dipanggil dengan sebutan “Kulin” yang telah mempersilahkan saya singgah di tempat tinggalnya.

Tautan kesejarahan:

Rabu, 27 Mei 2009

TRAGEDI HANCURNYA KESULTANAN BULUNGAN

(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
Dijelaskan dalam buku SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA yang ditulis oleh: H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. bahwa peristiwa pembakaran dan penjarahan Kesultanan Bulungan terjadi pada tanggal 23-24 Juli 1964. Sejumlah kerabat dan keluarga Sultan ditangkap, terbunuh dan dinyatakan hilang tanpa status. mereka dituduh melakukan gerakan subversif BULTIKEN (Bulungan-Tidung-Kenyah).
Peristiwa ini terjadi setelah masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin berakhir atau setelah beliau wafat (wafat pada tanggal 21 Desember 1958). Ketika beliau wafat status Bulungan masih merupakan Daerah Istimewa. Beliaulah kepala daerah istimewa Bulungan (DIB) yang pertama dan terakhir karena pada masa selanjutnya dengan Undang Undang Nomor 27 Tahun 1959, status DIB diubah menjadi Daerah Tingkat (Dati) II Bulungan dan ditetapkan Andi Tjatjo Gelar Datuk Wiharja (1960-1963) sebagai Bupati yang pertama. Pada masa selanjutnya Andi Tjatjo digantikan oleh: Damus Managing Frans (1963-1964). Setelah kurang lebih satu tahun beliau digantikan oleh: E.N. Zakaria Mas Tronojoyo (1964-1965). Kemudian secara berurutan hingga pejabat Bupati yang ke-11 (pada saat sekarang ini) adalah Drs. H. Budiman Arifin, M.Si. demikianlah catatan-catatan yang dihimpun dan ditulis oleh Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Bulungan dalam Profil Kabupaten Bulungan (2008).
Komparasi data-data tersebut melahirkan analisa logis bahwa sistem pemerintahan kesultanan di wilayah Bulungan telah berakhir setelah Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin wafat dan selanjutnya terjadilah sebuah tragedi yang mengenaskan dan tidak berperikemanusiaan itu pada masa transisi antara Damus Managing Frans dengan Mas Tronojoyo.
Kelanjutan dari peristiwa tragis itu seorang putra daerah (Iwan Samariansyah) dalam artikelnya yang ditulis pada sebuah blog ISANDRINESIA DIGEST (2007) memberikan informasi bahwa pada tanggal 1 Februari 2003 dalam acara Temu Kader Partai Golkar di lapangan Agathis Tanjung Selor yang dihadiri Akbar Tanjung, para aktivis dari Kabupaten Bulungan mengajukan gugatan yang dikenal dengan "Bulungan Menggugat". Mereka meminta agar Akbar Tanjung sebagai salah satu tokoh nasional mendukung rakyat di Kabupaten Bulungan menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi Tenguyun dalam kaitannya dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada tahun 1964.
Dua pasal tuntutan mereka adalah:
(1) Agar pemerintah pusat menyampaikan permohonan maaf kepada ahli waris Kesultanan Bulungan atas terjadinya pembunuhan terhadap 50 orang keluarga Sultan Bulungan pada kejadian tahun 1964.
(2) Agar pemerintah pusat dapat memberikan ganti rugi yang layak atas hancur dan terbakarnya keraton kesultanan Bulungan serta dirampoknya harta benda kesultanan yang kini lenyap tak tersisa.
Terkait dengan hal tersebut sebenarnya Datoe Dissan Maulana dan Datoe Abdul Azis dalam wawancaranya dengan "Gatra.com" di situs gatracom (tertanggal 19 Desembar 2002) juga pernah menjelaskan bahwa runtuhnya kerajaan Bulungan, akibat ulah antek-antek PKI di bawah pimpinan Panglima Kodam Mulawarman, Brigjen TNI Soeharyo yang membakar dan menjarah isi istana. Bahkan, puluhan kerabat keraton dibunuh dengan tuduhan akan melakukan makar dan bergabung dengan Malaysia. Peristiwa subversif itu dikenal dengan "Bultiken" (Bulungan-Tidung-Kenyah). Puluhan kerabat keraton, serta ratusan rakyat yang tidak berdosa dibantai oleh serdadu tanpa proses pengadilan, dan mayatnya dibuang ke laut Tarakan. Bukti bahwa tuduhan makar itu tidak terbukti adalah adanya surat pernyataan minta maaf dari pasukan Soeharyo, serta pengembalian harta benda yang dijarah pada era Orde Baru, namun sebagian benda-benda berharga itu hilang.
Masih dari situs gatracom dijelaskan bahwa Dt. Dissan Maulana adalah putra ke-10 dari almarhum Sultan Maula Muhammad Jalaluddin. Sedangkah Datoe Abdul Azis adalah cucu dari almarhum Dt. Mansyur. Paling tidak, keterangan yang disampaikan oleh mereka memiliki tingkat validasi (keabsahan) yang tinggi. Begitulah sejarah yang mendorong kita untuk berpikir kritis dan apa yang kita lakukan saat sekarang ini adalah sajarah di masa datang. Apakah kita telah berlaku bijak dan bertindak adil? Maka hal tersebut dapat diukur dengan keadaan/kondisi saat ini apakah hari ini telah lebih baik dari pada masa lampau? Marilah kita persiapkan bekal untk generasi penerus demi kemajuan daerah di masa datang.

Referensi:
<1> H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. 2006. SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA. Tarakan: CV. Eka Jaya Mandiri.
<2> http://isandri.blogspot.com/2007/08/menggugat-peristiwa-kelam-1964.html. (diakses tanggal 20 Mei 2009)
<3> http://gatra.com/2002/2002-12-19/artikel.php?id=23352 (diakses tanggal 20 Mei 2009)
<4> Profil Kabupaten Bulungan. 2008. Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Bulungan.
<5> http://sugeng-arianto.blogspot.com
Tautan kesejarahan:

Sabtu, 11 April 2009

Kesultanan Bulungan Terbakar

Akhir yang mengenaskan terjadi pada tahun 1964 di wilayah kesultanan Bulungan. Demikian tersurat dalam sebuah buku yang berjudul SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA, ditulis oleh H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. Satu-satunya buku yang menampilkan tokoh-tokoh kerabat Sultan yang gugur dan hilang tanpa status. Buku ini diterbitkan oleh: CV. Eka Jaya Mandiri - Tarakan, dan saat ini buku tersebut terkoleksi oleh Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Kabupaten Bulungan.
Sultan Muhammad Djalaluddin pernah diberi anugerah gelar Letnan Kolonel Tituler oleh Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda. Meskipun tidak diceritakan bagaimana reaksi Sultan ketika menerima gelar, apakah senang, bangga, menerima atau menolak namun selanjutnya dilaksanakan pesta Birau pertama selama 40 hari 40 malam.
Dijelaskan bahwa Sultan tidak mau hadir dalam undangan pada setiap pertemuan yang diadakan oleh Ratu Wilhelmina. Sultan bahkan dalam menghadiri setiap pertemuan mengutus Menteri Pertama Datu Bendahara Paduka Raja untuk kepentingan Pemerintah Republik Indonesia baik di Jakarta maupun di Yogyakarta. Keberadaan Sultan/utusan Sultan dalam Konferensi Meja Bundar di Malino menunjukkan sikap Sultan yang peduli dan mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bukti dukungan yang nyata lainnya Kesultanan Bulungan adalah seperti tampak pada gambar foto: Bendera Merah Putih dikibarkan Untuk pertama kalinya di depan istana dalam upacara resmi pada tanggal 17 Agustus 1949 pukul 07.00 dipimpin langsung oleh Sultan, sedang bertindak sebagai pengerek bendera pada saat itu adalah PJ. Pelupessi Asisten Wedana Tanjung Palas. Ini terjadi sebelum peristiwa pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Kerajaan Belanda (tanggal 27 Desember 1949). Hingga akhir hayat Sultan (wafat tanggal 21 Desember 1958), Bulungan masih merupakan daerah istimewa namun pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, wilayah Daerah Istimewa Bulungan memasuki babak baru karena status Daerah Istimewa diganti menjadi Kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959 dengan pimpinan wilayah disebut Bupati. Bupati pertama adalah Andi Tjatjo gelar Datu Wihardja (adik ipar Sultan Muhammad Djalaluddin).
-----
Kapan terjadi, siapa pelakunya, dan mengapa Kesultanan Bulungan dibakar? Buku ini menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa pembakaran terhadap singgasana Kesultanan Bulungan terjadi pada hari Kamis dan Jum'at, tanggal 23-24 Juli 1964. Pembakaran dilakukan oleh Satuan tentara dari Brawijaya di bawah koordinator Letnan B. Simatupang dengan menggerakkan massa penduduk setempat. Bagi penduduk yang tidak turut serta membakar istana dianggap pengikut Raja Muda, dan mereka ditangkap. Raja Muda dituduh sebagai pemberontak sebagaimana tersirat dalam pidato Mayor Sumina Husain (Komandan KODIM 0903 Bulungan di Tanjung Selor pada waktu itu): "Para Bangsawan Bulungan ingin memberontak terhadap Pemerintah RI yang sah dengan gerakan yang disebut SUBVERSIF BULTIKEN dan saat ini Raja Muda telah melarikan diri".
-----
DAFTAR RUJUKAN:
1). HS. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. 2006. Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari masa ke masa. Tarakan: CV. Eka Jaya Mandiri
2). Poesponegoro, Marwati Djoenet. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka.
3). Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan. Lintasan Sejarah (Online), (http://www.bulungan.go.id)
Tautan kesejarahan:

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...