Sabtu, 11 April 2009

Kesultanan Bulungan Terbakar

Akhir yang mengenaskan terjadi pada tahun 1964 di wilayah kesultanan Bulungan. Demikian tersurat dalam sebuah buku yang berjudul SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA, ditulis oleh H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. Satu-satunya buku yang menampilkan tokoh-tokoh kerabat Sultan yang gugur dan hilang tanpa status. Buku ini diterbitkan oleh: CV. Eka Jaya Mandiri - Tarakan, dan saat ini buku tersebut terkoleksi oleh Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Kabupaten Bulungan.
Sultan Muhammad Djalaluddin pernah diberi anugerah gelar Letnan Kolonel Tituler oleh Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda. Meskipun tidak diceritakan bagaimana reaksi Sultan ketika menerima gelar, apakah senang, bangga, menerima atau menolak namun selanjutnya dilaksanakan pesta Birau pertama selama 40 hari 40 malam.
Dijelaskan bahwa Sultan tidak mau hadir dalam undangan pada setiap pertemuan yang diadakan oleh Ratu Wilhelmina. Sultan bahkan dalam menghadiri setiap pertemuan mengutus Menteri Pertama Datu Bendahara Paduka Raja untuk kepentingan Pemerintah Republik Indonesia baik di Jakarta maupun di Yogyakarta. Keberadaan Sultan/utusan Sultan dalam Konferensi Meja Bundar di Malino menunjukkan sikap Sultan yang peduli dan mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bukti dukungan yang nyata lainnya Kesultanan Bulungan adalah seperti tampak pada gambar foto: Bendera Merah Putih dikibarkan Untuk pertama kalinya di depan istana dalam upacara resmi pada tanggal 17 Agustus 1949 pukul 07.00 dipimpin langsung oleh Sultan, sedang bertindak sebagai pengerek bendera pada saat itu adalah PJ. Pelupessi Asisten Wedana Tanjung Palas. Ini terjadi sebelum peristiwa pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Kerajaan Belanda (tanggal 27 Desember 1949). Hingga akhir hayat Sultan (wafat tanggal 21 Desember 1958), Bulungan masih merupakan daerah istimewa namun pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, wilayah Daerah Istimewa Bulungan memasuki babak baru karena status Daerah Istimewa diganti menjadi Kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959 dengan pimpinan wilayah disebut Bupati. Bupati pertama adalah Andi Tjatjo gelar Datu Wihardja (adik ipar Sultan Muhammad Djalaluddin).
-----
Kapan terjadi, siapa pelakunya, dan mengapa Kesultanan Bulungan dibakar? Buku ini menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa pembakaran terhadap singgasana Kesultanan Bulungan terjadi pada hari Kamis dan Jum'at, tanggal 23-24 Juli 1964. Pembakaran dilakukan oleh Satuan tentara dari Brawijaya di bawah koordinator Letnan B. Simatupang dengan menggerakkan massa penduduk setempat. Bagi penduduk yang tidak turut serta membakar istana dianggap pengikut Raja Muda, dan mereka ditangkap. Raja Muda dituduh sebagai pemberontak sebagaimana tersirat dalam pidato Mayor Sumina Husain (Komandan KODIM 0903 Bulungan di Tanjung Selor pada waktu itu): "Para Bangsawan Bulungan ingin memberontak terhadap Pemerintah RI yang sah dengan gerakan yang disebut SUBVERSIF BULTIKEN dan saat ini Raja Muda telah melarikan diri".
-----
DAFTAR RUJUKAN:
1). HS. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. 2006. Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari masa ke masa. Tarakan: CV. Eka Jaya Mandiri
2). Poesponegoro, Marwati Djoenet. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka.
3). Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan. Lintasan Sejarah (Online), (http://www.bulungan.go.id)
Tautan kesejarahan:

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...