Rabu, 27 Mei 2009

TRAGEDI HANCURNYA KESULTANAN BULUNGAN

(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
Dijelaskan dalam buku SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA yang ditulis oleh: H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. bahwa peristiwa pembakaran dan penjarahan Kesultanan Bulungan terjadi pada tanggal 23-24 Juli 1964. Sejumlah kerabat dan keluarga Sultan ditangkap, terbunuh dan dinyatakan hilang tanpa status. mereka dituduh melakukan gerakan subversif BULTIKEN (Bulungan-Tidung-Kenyah).
Peristiwa ini terjadi setelah masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin berakhir atau setelah beliau wafat (wafat pada tanggal 21 Desember 1958). Ketika beliau wafat status Bulungan masih merupakan Daerah Istimewa. Beliaulah kepala daerah istimewa Bulungan (DIB) yang pertama dan terakhir karena pada masa selanjutnya dengan Undang Undang Nomor 27 Tahun 1959, status DIB diubah menjadi Daerah Tingkat (Dati) II Bulungan dan ditetapkan Andi Tjatjo Gelar Datuk Wiharja (1960-1963) sebagai Bupati yang pertama. Pada masa selanjutnya Andi Tjatjo digantikan oleh: Damus Managing Frans (1963-1964). Setelah kurang lebih satu tahun beliau digantikan oleh: E.N. Zakaria Mas Tronojoyo (1964-1965). Kemudian secara berurutan hingga pejabat Bupati yang ke-11 (pada saat sekarang ini) adalah Drs. H. Budiman Arifin, M.Si. demikianlah catatan-catatan yang dihimpun dan ditulis oleh Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Bulungan dalam Profil Kabupaten Bulungan (2008).
Komparasi data-data tersebut melahirkan analisa logis bahwa sistem pemerintahan kesultanan di wilayah Bulungan telah berakhir setelah Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin wafat dan selanjutnya terjadilah sebuah tragedi yang mengenaskan dan tidak berperikemanusiaan itu pada masa transisi antara Damus Managing Frans dengan Mas Tronojoyo.
Kelanjutan dari peristiwa tragis itu seorang putra daerah (Iwan Samariansyah) dalam artikelnya yang ditulis pada sebuah blog ISANDRINESIA DIGEST (2007) memberikan informasi bahwa pada tanggal 1 Februari 2003 dalam acara Temu Kader Partai Golkar di lapangan Agathis Tanjung Selor yang dihadiri Akbar Tanjung, para aktivis dari Kabupaten Bulungan mengajukan gugatan yang dikenal dengan "Bulungan Menggugat". Mereka meminta agar Akbar Tanjung sebagai salah satu tokoh nasional mendukung rakyat di Kabupaten Bulungan menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi Tenguyun dalam kaitannya dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada tahun 1964.
Dua pasal tuntutan mereka adalah:
(1) Agar pemerintah pusat menyampaikan permohonan maaf kepada ahli waris Kesultanan Bulungan atas terjadinya pembunuhan terhadap 50 orang keluarga Sultan Bulungan pada kejadian tahun 1964.
(2) Agar pemerintah pusat dapat memberikan ganti rugi yang layak atas hancur dan terbakarnya keraton kesultanan Bulungan serta dirampoknya harta benda kesultanan yang kini lenyap tak tersisa.
Terkait dengan hal tersebut sebenarnya Datoe Dissan Maulana dan Datoe Abdul Azis dalam wawancaranya dengan "Gatra.com" di situs gatracom (tertanggal 19 Desembar 2002) juga pernah menjelaskan bahwa runtuhnya kerajaan Bulungan, akibat ulah antek-antek PKI di bawah pimpinan Panglima Kodam Mulawarman, Brigjen TNI Soeharyo yang membakar dan menjarah isi istana. Bahkan, puluhan kerabat keraton dibunuh dengan tuduhan akan melakukan makar dan bergabung dengan Malaysia. Peristiwa subversif itu dikenal dengan "Bultiken" (Bulungan-Tidung-Kenyah). Puluhan kerabat keraton, serta ratusan rakyat yang tidak berdosa dibantai oleh serdadu tanpa proses pengadilan, dan mayatnya dibuang ke laut Tarakan. Bukti bahwa tuduhan makar itu tidak terbukti adalah adanya surat pernyataan minta maaf dari pasukan Soeharyo, serta pengembalian harta benda yang dijarah pada era Orde Baru, namun sebagian benda-benda berharga itu hilang.
Masih dari situs gatracom dijelaskan bahwa Dt. Dissan Maulana adalah putra ke-10 dari almarhum Sultan Maula Muhammad Jalaluddin. Sedangkah Datoe Abdul Azis adalah cucu dari almarhum Dt. Mansyur. Paling tidak, keterangan yang disampaikan oleh mereka memiliki tingkat validasi (keabsahan) yang tinggi. Begitulah sejarah yang mendorong kita untuk berpikir kritis dan apa yang kita lakukan saat sekarang ini adalah sajarah di masa datang. Apakah kita telah berlaku bijak dan bertindak adil? Maka hal tersebut dapat diukur dengan keadaan/kondisi saat ini apakah hari ini telah lebih baik dari pada masa lampau? Marilah kita persiapkan bekal untk generasi penerus demi kemajuan daerah di masa datang.

Referensi:
<1> H.S. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. 2006. SEKILAS SEJARAH KESULTANAN BULUNGAN DARI MASA KE MASA. Tarakan: CV. Eka Jaya Mandiri.
<2> http://isandri.blogspot.com/2007/08/menggugat-peristiwa-kelam-1964.html. (diakses tanggal 20 Mei 2009)
<3> http://gatra.com/2002/2002-12-19/artikel.php?id=23352 (diakses tanggal 20 Mei 2009)
<4> Profil Kabupaten Bulungan. 2008. Bagian Humas Sekretariat Kabupaten Bulungan.
<5> http://sugeng-arianto.blogspot.com
Tautan kesejarahan:

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Dari semua referensi yang anda pakai, tidak ada interview langsung kepada Suhario. Artikel ini satu sisi dan menyesatkan.

Anonim mengatakan...

wajar saja ada orang yang sekuat tenaga menolak fakta terhadap apa yang terjadi pada kesultanan bulungan pada tragedi tahun 1964, bagaimanapun peristiwa itu adalah ingatan kolektif atau memory bersama masayarakat bulungan, jadi itu sudah jadi rahasia umum, jangan lupa sebelum Istana bulungan di bakar dan harta bendanya di jarah, Brigjen Soemitro dalam memoirnya pernah menceritakan bahwa Istana Kutai juga pernah di rusak oleh komando orang yang sama -hanya saja sempat diselamatkan oleh moeis hassan- oleh orang yang menganggap dirinya paling Revolusioner.

Shafiee Abd Sattal mengatakan...

Cerita yang tertulis dalam artikel ini masih belum benar dan sahih. Kalau kita melihat cerita yang sebenarnya adalah begini. Sultan Ahmad Sulaimanuddin atau dengan nama lain Sultan Iskandar tidak mempunyai isteri dan anak. Tetapi armarhum mempunyai anak buah lelaki sebagai warisan tunggal iaitu Raja Muda dan nama sebenarnya adalah Sulaiman Bin Arif Engah yang sepatutnya layak menjadi warisan kesultanan Bulungan. Malangnya terdapat rampasan kuasa dikalangan penjaga istana yang bukan dara diraja iaitu Tiras atau Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin yang berusaha untuk membunuh Raja Muda - Sulaiman lari ke Sabah dan seterusnya ke Filipina. Raja Muda telah menetap di Filipina dan Si Tiras menggelarkan dirinya sebagai Sultan serta memberitahu kepada Istana bahawa Raja Muda sudah meninggal dunia. Untuk makluman saudara Raja Muda mempunyai 10 orang anak daripada hasil perkahwinannya di Filipina dan sehingga hari ini masih ada dara keturunan Sultan Bulungan yang kini menetap di Sabah,Malaysia dan Filipina. Untuk makluman yang lebih terperinci boleh berhubung dengan cucuk kepada Raja Muda(Sultan Sulaiman) yang bernama Encik AbdulSaman Bin Hj Shafiee yang tinggal sekarang di Daerah Kunak Sabah dan ramai lagi cucuk-cucuk keturunan dara Sultan Bulungan hingga ke hari ini. Daripada Abd Sattal Bin Shafiee.

Anonim mengatakan...

Saya pun ada kenal keluarga yang ada darah sultan bulungan ne.

Anonim mengatakan...

kejadian tahun 1964 itu benar adanya. Mengapa? saya sangat yakin karena keluarga kerabat saya yg masih keturunan Datu' Laksamana Paduka Raja Menteri III mengalami sendiri kejadian tsb. Saudaranya ditangkap dan sebagian lain melarikan diri dgn kapal atau smcamnya ke daerah terdekat sprti Sembakung pada dini hari.

Anonim mengatakan...

kejadian tahun 1964 itu benar adanya. Mengapa? saya sangat yakin karena keluarga kerabat saya yg masih keturunan Datu' Laksamana Paduka Raja Menteri III mengalami sendiri kejadian tsb. Saudaranya ditangkap dan sebagian lain melarikan diri dgn kapal atau smcamnya ke daerah terdekat sprti Sembakung pada dini hari.

mariana octavianti mengatakan...

kejadian tahun 1964 itu benar adanya. Mengapa? saya sangat yakin karena keluarga kerabat saya yg masih keturunan Datu' Laksamana Paduka Raja Menteri III mengalami sendiri kejadian tsb. Saudaranya ditangkap dan sebagian lain melarikan diri dgn kapal atau smcamnya ke daerah terdekat sprti Sembakung pada dini hari.

HendyDermawan mengatakan...

Demikianlah sejarah telah terjadi. Apakah Benar atau salah...? siapa yang pernah mengetahuinya, kecuali mereka para pelaku sejarah itu sendiri. Cerita diatas masih terlihat subjektif... karena kita hanya mendengar cerita dari satu sisi para masyarakat yang masih hidup hingga saat ini. tidak pernah kita mendengar xcarita sejarah dan fakta dari para Tentara yang ada pada masa itu, kemudian keluarga sultan yang melarikan diri ke sabah dan filipina dengan isu ada perebutan kekuasaan kesultanan bulungan oleh para penjaga istana, serta keberanian pemimpin negeri ini para bupati/gubernur untuk mengungkapkan fakta sebenarnya. Ada apa ya..?

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...