Selasa, 18 Agustus 2009

PERJALANAN KE SALIMBATU

(Sugeng Arianto, S.Pd.)
Berawal dari adanya sebuah keiinginan untuk melakukan survey ke makom keramat di Salimbatu, Kabupaten Bulungan akhirnya menjadi terwujud ketika peluang datang. Inilah perjalanan yang mengesankan di hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009. Hari bersamaan dengan kegiatan siswa menerima hasil belajar selama satu tahun pembelajaran. Hari itu para wali kelas telah menyiapkan rapor siswa yang menjelaskan siswa naik kelas atau tinggal kelas. Karena saya bukan wali kelas maka hari tersebut merupakan peluang bagi saya untuk melakukan survey.
Saya memutuskan perjalanan ke Salimbatu menggunakan akses jalan darat ketika saya mengetahui bahwa ada seorang guru SMP Negeri Salimbatu yang tinggal di Tanjung Selor setiap hari naik sepeda motor untuk pergi mengajar. Guru tersebut bernama Aji Isworo kebetulan istrinya adalah teman kerja saya satu kantor (sekolah). Saya menghubungi bapak Aji sehari sebelumnya dan keesokan harinya kami berangkat bersama-sama.
Perjalanan ke Salimbatu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Daratan Tanjung Palas dihubungkan dengan aliran sungai yang cukup lebar (kurang lebih 200 m) untuk sampai di daratan Salimbatu. Perusahaan layanan jasa penyeberangan yang diprakarsai oleh bapak Arif tiada henti pagi hingga malam hari menolong orang yang hendak menyeberang ke Salimbatu ataupun ke Tanjung Palas. Seorang penyeberang bersama kendaraannya (sepeda motor) dikenakan tarif Rp 8.000,00. Keamanan penyeberangan dapat dirasakan langsung oleh penumpang karena di atas perahu yang di desain lebarnya kurang lebih 2,5 m dengan panjang kurang lebih 10 m itu para penumpang merasa nyaman. Sedangkan daya tampung diperkirakan 10 sepeda motor dengan pengendaranya.
Sementara bapak Aji menuju ke SMPN Salimbatu, saya mencari alamat tempat tinggal bapak Abdul Kadir yang biasa dipanggil dengan sebutan Jang Ading. Rumah Jang Ading yang menghadap ke arah 285 derajat itu ternyata termasuk dalam kawasan perumahan di depan kantor Camat di Jalan Datu Perdana. Saya utarakan maksud dan niat saya untuk melakukan survey pada makam Sayid Abdullah Bil Faqih dan makam Sayid Ali Idrus Al Idrus kepada Jang Ading.
Jang Ading tinggal bersama istri dan dibantu oleh pak Herman yang siap disuruh-suruh apa saja dengan tenaga yang dimilikinya. Anak-anak Jang Ading sibuk dengan pekerjaannya, untuk itu ada sebuah HP yang dipegangnya yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk menghubungi mereka manakala sangat diperlukan. Sehubungan dengan maksud dan tujuan saya untuk melakukan survey, maka berceritalah Jang Ading tentang Habib Ali Idrus Al Idrus yang meninggal diperkirakan pada tahun 1900 (HE. Moh. Hasan, 1982).
Habib Ali Idrus Al Idrus sebelum meninggal dunia pernah memberikan kutukan kepada seorang ”Aji” (sebutan gelar kebangsawanan bagi sahabat keluarga Sultan di lingkungan kesultanan Bulungan) bahwa hidupnya akan mengalami kesusahan hingga 7 turunan. Habib Idrus memberi kutukan tersebut karena seorang “Aji” telah merebut mimbar Jum’at yang sedang dipegangnya. Kesombongan dan keangkuhan “Aji” yang demikian itu tidaklah mencerminkan akhlak yang mulia. Pengaruh “Aji” memanglah kuat di masyarakat. Jika penduduk dan seluruh masyarakat mencontoh akhlak yang dimiliki “Aji” maka negeri ini tidaklah akan bisa maju. Demikianlah inti cerita yang disampaikan Jang Ading sebelum saya pamit melanjutkan perjalanan menuju ke makam.
Dari rumah tempat tinggal Jang Ading saya melanjutkan perjalanan ke makam Sayid Ali Idrus Al Idrus dan Sayid Abdullah Bil Faqih. Makam kedua sayid tersebut berada di dataran yang agak tinggi dan dikelilingi makam-makam penduduk setempat. Dari tepi sungai berjarak kurang lebih 200 m. Jalan menuju makam kedua sayid tersebut adalah jalan setapak bersemen yang lebarnya kurang lebih 1 m dan berundak pada bagian dataran yang membukit. Di sebelah kiri-kanan jalan setapak tersebut dibatasi oleh pagar kayu berwarna hijau yang memanjang dari gapura masuk hingga makam. Pada bagian atas gapura masuk bertuliskan: MAKAM KERAMAT BERSEJARAH (baris pertama/atas) SAYID ABDULLAH BILFAQIH & SAYID ALI AL IDRUS (baris kedua/bawah).
Areal makam kedua sayid tersebut tampak terawat, di atas areal makam didirikan bangunan beratap seng sedangkan tiang dan pilar-pilarnya berwarna hijau. Makam Sayid Abdullah lebih tinggi dari makam Sayid Ali. Sebuah papan yang dipasang disana bertuliskan: PENGUMUMAN (baris ke-1) NO 1 TH 1982 (baris ke-2) MELIHAT KEADAAN MAKAM (baris ke-3) SAID ABDULLAH BIL FAQIH (baris ke-4) MAKA TARIKH WAFATNYA DIPERKIRAKAN (baris ke-5) TH 1882. JAGALAH KEBERSIHAN MAKAM INI, (baris ke-6) YANG INGIN MENYUMBANG PERBAIKANYA (baris ke-7) SILAHKAN BERHUBUNGAN DENGAN KAMI. (baris ke-8) TERIMA KASIH (baris ke-8) 20 JUNI 1982 (baris ke-9) TG. SELOR, (antara baris ke-9 dan ke-10) 28 SYA’BAN 1402 (baris ke-10) KEPALA KUA KEC. TG PALAS (baris ke-11) TTD (baris ke-12) H.E MOH HASAN (baris ke-13). Dua papan yang lain yang dipasang di areal makam Sayid Abdullah adalah papan papan yang ditulis dengan huruf berbahasa arab yang berisi shalawat. Meskipun luas areal makam kurang lebih 2 x 3 m persegi, akan tetapi panjang makam Sayid Abdullah kurang lebih 1 m saja membujur ke arah 75 derajat (Timur Laut) dan sebuah batu nisan dari makam tersebut beridiri tegak di sebelah barat daya. Di sebelah makam Sayid Abdullah ada dua buah makam lagi yang ukuran batu nisannya lebih kecil dan pendek.
Areal makam Sayid Ali Idrus Al Idrus tampak lebih luas karena hanya berisi satu buah makam saja. Sebuah papan berwarna putih dengan tulisan berwarna hitam berbunyi: PENGUMUMAN (baris ke-1) NO 1 TH 1982 (baris ke-2) MELIHAT KEADAAN MAKAM (baris ke-3) SAID ALI IDRUS AL IDRUS (baris ke-4) MAKA TARIKH WAFATNYA DIPERKIRAKAN (baris ke-5) TH 1900. JAGALAH KEBERSIHAN MAKAM (baris ke-6) INI, YANG INGIN MENYUMBANG PERBAIKA(baris ke-7) NYA SILAHKAN BERHUBUNGAN DENGAN (baris ke-8) KAMI. (baris ke-8) TERIMA KASIH (baris ke-9) 20 JUNI 1982 (baris ke-10) TG. SELOR, (antara baris ke-10 dan ke-11) 28 SYA’BAN 1402 (baris ke-11) KEPALA KUA KEC. TG PALAS (baris ke-12) TTD (baris ke-13) H.E MOH HASAN (baris ke-14). Di bawah langit-langit tepat di atas makam Sayid Ali dipasang kain berwarna kuning yang diikatkan sudut-sudutnya seperti bentuk kelambu.
Saya ucapkan terimakasih kepada sdr Romy Arianto yang biasa dipanggil dengan sebutan “Memet” yang telah mengantar saya hingga ke area pemakaman. Juga kepada sdr Fahransyah yang biasa dipanggil dengan sebutan “Kulin” yang telah mempersilahkan saya singgah di tempat tinggalnya.

Tautan kesejarahan:

Tidak ada komentar:

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...