Jumat, 26 Maret 2010

Tugas Wawancara

Ketika materi sejarah kelas IX membahas “Tragedi Nasional” para siswa (SMP Negeri 2 Tanjung Selor) mendapat tugas untuk melakukan wawancara dengan orang tua yang pernah mendengar atau menyaksikan secara langsung peristiwa mengenaskan tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan atau menemukan informasi tentang keadaan masyarakat pada waktu itu dan melakukan refleksi berdasarkan fakta disamping telaah buku.
Tragedi nasional yang diwarnai dengan penculikan, penganiayaan dan pembunuhan terjadi di Tanah Air Indonesia secara berturut-turut atau bersamaan. Menyikapi amanat Dwikora atau kemudian dikenal dengan kebijakan Politik Ganyang Malaysia, menurut HS. Ali Amin Bilfaqih, S.Ip. (Staf Ahli Bupati Bulungan, 2004) dalam bukunya yang berjudul Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan Dari Masa Ke Masa, para elit Pimpinan tentara di daerah menyebarkan issue dan tuduhan terhadap kalangan kerabat istana Kesultanan Bulungan yaitu Raja Muda dan kawan-kawannya merencanakan gerakan Makar ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakan ini oleh mereka disebut Gerakan BULTIKEN (Bulungan, Tidung dan Kenyah). Disusul kemudian dilakukan penangkapan, penyiksaan, pembantaian ratusan penduduk serta mengambil dan mengangkut harta benda, serta asset-asset milik Kesultanan Bulungan dan terakhir dilakukan pembakaran terhadap Istana Kesultanan Bulungan pada tanggal 18 Juli 1964.
Para siswa secara berkelompok mencari informan dan akhirnya menemukan seseorang yang sudah berumur. Namanya Datuk Ibrahim. Beliau adalah penjaga Museum Kesultanan Bulungan yang selalu membersihkan dan merawat barang-barang peninggalan kerajaan. Kelompok-kelompok siswa mendatangi beliau secara bergantian. Ada yang datang pagi hari, ada yang datang siang hari dan ada pula yang datang sore hari. Tampaknya para siswa ingin mendapatkan informasi langsung dari nara sumber. Hitung-hitung tempat tinggal mereka tidak jauh dari Museum Kesultanan Bulungan.
Mungkin Datuk Ibrahim kelelahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama sehingga harus menceritakan berulang-ulang lalu hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Hal tersebut tersirat dalam rekaman akhir wawancara seorang anggota kelompok bernama Slamet Dwi Hariyono (kelas IXB) dengan Datu Ibrahim. “Apa bisa dilanjutkan Tuk, ceritanya?” demikian tanya Slamet, lalu Datuk Ibrahim menjawab: “Maaf, cukup sampai sini saja saya cerita. Karena kalau diceritakan saya teringat pada masa yang lalu, jika teringat hati saya jadi sakit”.
Ada kelompok lain yang memilih informan yang berbeda seperti kelompok yang dipimpin oleh Ayu Indriyani Putri binti Muntu (kelas IXD). Kelompok ini berhasil menemukan seseorang yang mengaku pelaku pembakaran terhadap Kesultanan Bulungan yang bernama Datuk Wathanul Mansyur S.M. Dalam rekaman percakapan beliau mengaku adalah putra dari Datuk Perdana (Perdana Menteri ke-2 Kesultanan Bulungan).
Seseorang dari kelompok Ayu bertanya: “Kenapa anda ingin membakar Istana Kesultanan Bulungan?”
Sebenarnya saya tidak ingin membakar Istana Kesultanan Bulungan, karena saya diperintahkan oleh Pangdam untuk ikut membakar Istana Kesultanan Bulungan
Kelompok Ayu bertanya lagi: “Kenapa pada saat itu anda tidak menolak?”
Lalu jawabnya: “Saya itu menolak, tidak mau turut perintah tetapi saya dipaksa dan ditendang, dipukul serta diinjak oleh Sersan Supardi, mau tidak mau saya harus menuruti perintah … sampai sekarangpun bekas injakannya masih membekas di punggung saya”.
Tugas wawancara para siswa kelas IX, SMP Negeri 2 Tanjung Selor harus sudah dikumpulkan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (29 Maret 2010). Di atas meja guru sejarah tumpukan tugas wawancara semakin tinggi, satu persatu telah diperiksa dan diberi nilai yang sesuai.

Tautan kesejarahan:

Rabu, 03 Maret 2010

Maulid 2010

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada SMP Negeri 2 Tanjung Selor tahun ini diselenggarakan di masjid sebelah barat sekolah yang sedang direhab. Acara peringatan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 Pebruari 2010 (13 Robiul Awwal 1431 H). Dalam acara tersebut hadir Ustadz Ridwan yang menyampaikan hikmah maulid. Adapun tema peringatan tahun ini adalah : "MARI KITA JADIKAN FIGUR ROSULULLAH SEBAGAI SURITAULADAN DALAM PERILAKU SEHARI-HARI". Seperti biasa, susunan acaranya adalah :
1. Pembukaan oleh Protokol
2. Pembacaan ayat Al-Qur'an
3. Kata sambutan Kepala Sekolah
4. Hikmah Maulid
5. Doa (penutup)
Ibu Laila Mawaddah, S.Ag. sebagai guru yang melakukan pembinaan Agama Islam telah bekerjasama dengan pembina OSIS dalam penyelenggaraan peringatan.
[Ibu Laila membimbing putrinya membaca Al-Qur'an]
[Bapak Kepala Sekolah menyampaikan kata sambutan]
[Ustadz Ridwan menyampaikan hikmah Maulid]
[Pak Zaenal, Pak Amad, Pak Bedjo, Pak Nanang dan putranya]

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...