... Silahkan tinggalkan pesan di bawah artikel, sepanjang tidak mengandung unsur politik dan SARA, kami akan terima dengan senang hati ...

Rabu, 05 Mei 2010

Raja Raja Berau, Gunung Tabur dan Sambaliung

(Oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)

Tertulis pada lembaran kertas F4 berbingkai warna gelap dipajang pada sebuah papan berlapis kaca dengan posisi terlentang menghadap ke langit-langit yang tingginya lebih kurang 120 cm SILSILAH RAJA-RAJA BERAU. Dua lembar kertas yang lain berukuran sama terletak di sebelah kiri dan kanan bertuliskan SILSILAH RAJA-RAJA GUNUNG TABUR (kiri), dan SILSILAH RAJA-RAJA SAMBALIUNG (kanan).

SILSILAH RAJA-RAJA BERAU
(setelah diperbaiki oleh: Datu Syachru)

1. AJI SURYA NATAKESUMA/BADDIT DIPATUNG
(1377-1401)
2. AJI NIKULLAN
(1401-1426)
3. AJI NIKUTAK
(1426-1451)
4. AJI NIGINDANG
(1451-1470)
5. AJI PANJANG RUMA
(1470-1495)
6. AJI TUMANGGUNG BARANI
(1495-1524)
7. AJI SURA RAJA
(1524-1550)
8. AJI SURGA BALINDUNG
(1550-1576)
9. AJI DILAYAS
(1576-1600)
10. PANGERAN TUA
(1600-1624)
11. PANGERAN DIPATI
(1624-1650)
12. AJI KUNING
(1650-1676)
13. SULTAN HASANUDDIN
(1676-1700)
14. SULTAN ZAINAL ABIDIN I
(1700-1740)
15. SULTAN BADARUDDIN
(1740-1760)
16. MAULANA SULTAN SALEHUDDIN
(1760-1777)
17. SULTAN AMIRIL MU'MININ
(1777-1800)
18. SULTAN ZAENAL ABIDIN II
(1800-1804)

Pada akhir abad XVIII Pemerintahan Kerajaan Berau diteruskan oleh 2 orang Sultan yaitu Sultan untuk wilayah Gunung Tabur dan Sultan untuk wilayah Sambaliung.

SILSILAH RAJA-RAJA GUNUNG TABUR
(setelah diperbaiki oleh: Datu Syachru)

1. Sultan Aji Kuning II
(1800-1850)
2. Raja Muda Sibandang
(1850-1860)
3. Sultan Amiruddin
(1860-1876)
4. Sultan Hasanuddin
(1876-1882)
5. Wakil Sultan (Regen) Haji Datu Adji Kuning
(1882-1892)
6. Haji Siranuddin
(1893-1903)
7. Sultan Achmad Maulana
(1903-1953)

SILSILAH RAJA-RAJA SAMBALIUNG
(setelah diperbaiki oleh: Datu Syachru)

1. Sultan Alimuddin/Raja Alam
(1810-1844)
2. Sultan Kaharuddin
(1844-1848)
3. Sultan Hadi Jalaluddin
(1848-1850)
4. Sultan Asyik Syarifuddin
(1850-1863)
5. Sultan Salehuddin
(1863-1869)
6. Sultan Adil Jalaluddin
(1869-1881)
7. Sultan Chalifatullah Bayanuddin
(1881-1902)
8. Sultan Muhammad Aminuddin
(1902-1960)

Sayang sekali Silsilah Silsilah tersebut tidak lengkap, jika dibaca maka terkesan hanya merupakan urutan Raja-Raja dari tiga buah kesultanan. Tidak menggambarkan keturunan yang sebenarnya. Jadi, ketidaklengkapan dari silsilah silsilah tersebut bukan karena adanya bagian angka tahun yang hanya ditulis dengan tanda titik sebanyak sembilan buah pada masa pemerintahan sultan ke-5 (Sultan Muh. Salehuddin) kesultanan Sambaliung, akan tetapi Silsilah tersebut (sekali lagi) tidak menggambarkan keturunan sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008:1349) bahwa silsilah adalah asal usul suatu keluarga, atau catatan yang menggambarkan hubungan keluarga. Dengan demikian akan lebih tepat jika kata "Silsilah" diganti dengan kata "Daftar Urutan".
Dalam kunjungannya ke Museum Batiwakkal (Kaltimpos, 10 Maret 2009), Awang Faroek meminta agar silsilah kerajaan itu dibuat lebih detail. Hal tersebut mengisyaratkan kepada pengelola Museum Batiwakkal bersama-sama kerabat kesultanan Berau untuk membenahinya. Selanjutnya Awang Faroek berharap agar masyarakat mengetahui dari keturunan mana kedua putri pewaris sultan yang masih ada itu hingga sekarang manakala silsilah yang lebih detil telah dibuat.
Daftar Urutan Raja-Raja Berau, Gunung Tabur dan Sambaliung ternyata tidak berbeda jauh dengan Daftar 122 Raja Yang Memerintah Pada 5 Kerajaan di Kalimantan Timur dari Tahun 400 - 1960. Daftar tersebut terdapat di dalam Buku Sejarah Pemerintahan Di Kalimantan Timur Dari Masa ke Masa halaman 207. Lebih jauh jika kita amati tulisan tentang Silsilah yang diletakkan pada Museum Batiwakkal terdapat catatan kecil yang berbunyi: "Sumber data : Makalah Seminar Hari Jadi Kota Tanjung Redeb 1992". Biasanya para peneliti dan penulis menemukan benda-benda sejarah dari museum sebagai salah satu sumber bahan pembuatan makalah.

Sumber Data:
  1. Catatan perjalanan wisata sejarah ke Museum Batiwakkal (4 Mei 2010).
  2. Kamus Bahasa Indonesia, (2008) Pusat Bahasa - Depdiknas - Jakarta.
  3. Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Timur dari Masa ke Masa (1992), Jakarta: Pemda Prov Kalimantan Timur.
  4. Kaltimpos online (http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=17445, diakses 5 Mei 2010, oleh: Sugeng Arianto, S.Pd.)
  5. Datu Syachru (sms, 23 Maret 2011. 07:21)

Tautan kesejarahan:

7 komentar:

datu edy fachriadi mengatakan...

Silsilah Kesultanan Sambaliung untuk nama Sultan terakhirnya bukan "AJI MUHAMMAD AMINUDDIN" tetapi "SULTAN MUHAMMAD AMINUDDIN" yang perlu diketahui pihak Gunung Tabur tidak pernah konsisten dalam penulisan Silsilah,bukan hanya itu buku "SEJARAH RAJA-RAJA BERAU" yang disusun oleh H.AJI RAHMATSYAH pun banyak kebohongan khususnya tentang SEJARAH RAJA ALAM & KESULTANAN SAMBALIUNG.Saya sebagai cucu dari Sultan Muhammad Aminuddin tidak menghendaki adanya pembohongan publik.

wazir yang mulia mengatakan...

itru cerita nostalgia saja dan mana ada raja di indonesia semua hancur musnah disebabkan raja itu sendiri saja kasi sama belanda sama bung karno setahusaya sambaliung pun kecil saja kesultanan dan terpaksa minta kasihan sama sulu sebab kecil dan tak mampu pertahankan diri sebab kecil dan takut sama belanda sebab kesultanan sambaliung punah dan musnah jangan cakap keturunan saja sama itu penulis buku sejarah raja alam dan kesultanan sambaliung jangan buat buku pasal kesultanan yang sudah musnah dan kiamat lagi tulislah buku mengenai raja di malaysia dan brunei yang masih wujud jangan lah tulis buku pasal kesultanan yang sudah terkubur dan hancur buat selama-lama nya

Anonim mengatakan...

Sdr. wazir, sebaiknya Anda belajar dulu tentang sejarah di Indonesia terutama terhadap Kesultanan2 yang berada di Kalimantan Timur.
Kesultanan di Kalimantan Timur semua tidak lah musnah, melainkan telah bergabung kepada Negara Indonesia. Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.
Kesultanan Sambaliung bukanlah kesultanan yang kecil. Kesultanan Sambaliung merupakan perpecahan dari Kesultanan Berau. Kesultanan Berau terpisah menjadi 2 kerajaan, yaitu Kerajaan Sambaliung dan Kerajaan Gunung Tabur. Shingga wilayah Berau pun terbagi menjadi 2, dengan 2 wilayah kekuasaan dari Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
Kesultanan Sambaliung tidaklah takut kpada Belanda, melainkan selalu melawan phk Belanda yg sangat ingin menguasai di wilayah Kesultanan Sambaliung maupun Gunung Tabur dan Belanda ingin menundukkan 2 Kesultanan tersebut di bawah kekuasaan Belanda.
Kemudian terjadilah perang Antara Kesultanan Sambaliung di bawah pimpinan Sultan Sambaliung yaitu Sultan Raja Alam dengan pihak Belanda.
Apa yg dikatakan sdr. wazir bahwa "terpaksa minta kasihan sama sulu" SEBENARNYA ITU HANYA OMONGAN DARI WAZIR SENDIRI DAN ITU TIDAKLAH BENAR. Sebenarnya Raja Alam melawan Belanda itu di bantu oleh Sulu yg dipimpin oleh Syarif Dakula (Bangsawan Sulu) yg mrupakan menantu dari Raja Alam. Raja Alam juga dibantu oleh pelaut2 Bugis yg dipimpin mertua Raja Alam sendiri yang bernama Petta Pangeran bin Petta to Rawe, Kesultanan Wajo.
Jauh sebelumnya kakek Sultan Raja Alam yaitu Sultan Hasanuddin (Sultan Sambaliung) mnikah dgn Dayang Lana yaitu putri Sultan Sulu.
Jadi, Kerajaan Sambaliung mempunyai hubungn kekerabatan dgn Kesultanan Sulu, Kesultanan Wajo, dll.
Turut di ingat,
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendahulunya dan sejarahnya"
Bila Anda merupakan salah satu anak bangsa negara, haruslah menghargai sejarah2 terdahulu.

Terima kasih.
Seorang Keturunan dari Kesultanan Sambaliung.

Salam datu edy fachriadi.

wazir yang mulia mengatakan...

sebenarnya kesultanan sulu yang membantu kesemuanya sebab ini diceritakan dalam hikayat maibung di sulu bahawa sambaliung meminta pertolongan daripada sultan sulu ketika itu dan saya salah satu keturunan dekat dengan datu dakula termasuk keturunanya mengatakan bahawa sambaliung minta tolong daripada kesultanan sulu sebab belanda besar dan menghancurkan kesultanan termasuk kecil atau besar

wazir yang mulia mengatakan...

sebenarnya kesultanan sulu yang membantu kesemuanya sebab ini diceritakan dalam hikayat maibung di sulu bahawa sambaliung meminta pertolongan daripada sultan sulu ketika itu dan saya salah satu keturunan dekat dengan datu dakula termasuk keturunanya mengatakan bahawa sambaliung minta tolong daripada kesultanan sulu sebab belanda besar dan menghancurkan kesultanan termasuk kecil atau besar

rifai mengatakan...

butuh sumber primer buat akses tentang kerajaan sambaliung/berau sebagai sumber skripsi,,,
ada yang bisa bantu nyari atau merekomendasikan buku dan sumber2 primer terkait,,,
terimakasih

rifai mengatakan...

ada yang bisa bantu untuk akses sumber primer dan buku2 tentang kerajaan sambaliung maupun gunung tabur (kerajaan berau)sebagai sumber skripsi.
mohon pencerahannya. Terima kasih