Kamis, 23 Juni 2011

KOMPAS NEGARA

Kompas adalah alat untuk mengetahui arah mata angin (biasanya berbentuk seperti jam yang berjarum besi berani yang menunjuk arah utara dan selatan). Dengan kompas dapat diketahui pula arah yang lain seperti barat, barat laut, barat daya, timur, timur laut, tenggara. Secara digital arah mata angin itu dapat disebutkan sebagai berikut: arah utara (U) = 0°, Timur Laut (TL) = 45°, Timur (T) = 90°, Tenggara (TG) = 135°, Selatan (S) = 180°, Barat Daya (BD) = 225°, Barat (B) = 270°, Barat Laut (BL) = 315°.

Bagaimana dengan kompas Negara? Sebagaimana gbr.1 kompas tersebut dinamakan kompas Negara sepintas sama dengan kompas pramuka hanya saja tidak berangka dan tidak ada keterangan arah mata angin. Kompas tersebut hanya menunjukkan arah kiblat yang tergambar di dalamnya sebuah anak panah berwarna merah. Dibeli oleh seorang penulis sejarah lokal Kabupaten Bulungan di Banjar Negara (Negara). Konon Negara adalah nama sebuah suku dan wilayah yang memproduksi kompas Negara di Kalimantan Selatan. Sayang sekali kompas ini hanya berlaku untuk wilayah Banjar Negara dan sekitarnya. Namun patut kita hargai hasta karya yang mengandung unsur seni yang tinggi dan budaya masyarakat setempat menunjukkan ciri khas dan jati diri suku bangsa di Indonesia. Dalam kompas terdapat tulisan berbunyi: “iman & taqwa” dan di bawahnya terdapat tulisan arab yang berbunyi: “hayaalasholah” membawa pesan mendalam kepada umat Islam khususnya yang berada di wilayah Banjar Negara.

Untuk membandingkan dengan kompas pramuka berikut ini (gbr.2) adalah gambar kompas pramuka yang digunakan untuk mengetahui arah mata angin. Dengan kompas inipun dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat sepanjang telah diketahui berapa derajad arah kiblat dari tempat kita berada. Perihal kepastian berapa derajad arah kiblat dari tempat kita berada atau berapa derajad arah kiblat dari kota-kota di Indonesia akan dibahas pada kesempatan lain dengan judul artikel yang berbeda. Demikian semoga sedikit tulisan ini akan menambah wawasan kita tentang kompas yang biasa dipakai oleh adik-adik pramuka Indonesia di pangkalan gugus depan masing-masing atau dalam perjalanan mencari jejak serta pembuatan peta pita.


Referensi:

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

2. Kompas Negara & Kompas Pramuka.

3. Wawancara dengan Bapak Nanang, SE dari Banjar.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

sangat menarik, terima kasih

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...