Rabu, 05 Desember 2012

TINJAUAN BUKU

Buku Selayang Pandang Birau 2012 yang diterbitkan oleh Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Bulungan ini berisi : Asal usul Suku Bulungan Tanjung Selor, Sejarah Pelaksanaan Birau, Pagelaran Birau, Jadwal Kegiatan, Dokumentasi Foto Perayaan Seni dan Budaya, Sejarah Singkat Berdirinya Kabupaten Bulungan, serta Riwayat singkat Para Bupati Bulungan dari Tahun 1960 hingga Bupati yang sekarang. Bupati Bulungan, Drs. H. Budiman Arifin, M.Si. dalam sambutannya pada Buku Selayang Pandang Birau 2012 menyatakan bahwa : "Peringatan hari jadi tersebut tidak saja memiliki makna historis semata, melainkan juga harus dapat menjadi sarana instropeksi dan evaluasi atas segala aktifitas yang telah kita laksanakan sampai dengan saat ini".
Dari buku inilah pada bagian I Pendahuluan dapat kita peroleh informasi bahwa Penetapan hari jadi Kota Tanjung Selor dan hari jadi Kabupaten Bulungan bermula dari Seminar yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bulungan pada tanggal 7 dan 8 Mei 1991 menetapkan Hari Jadi Kota Tanjung Selor jatuh pada tanggal 12 Oktober 1790 dan Hari Jadi Kabupaten Bulungan jatuh pada tanggal 12 Oktober 1960.

.Ukuran Buku : 17,50 cm x 24,50 cm. Tebal halaman : 48 halaman.

Senin, 08 Oktober 2012

RITUAL BIRAU DI TANJUNG PALAS

Bersamaan waktunya dengan acara tasymiah putri pertama dari pasangan suami istri Ibu Naila Qonita dengan Bapak Abdul Azis HR di Tanjung Palas, saya diundang oleh Datu Abdul Hamid untuk mengikuti kegiatan ritual di balai adat sebelah museum Kesultanan Bulungan. 
Kesempatan yang bagus pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 ini sungguh tidak mungkin saya sia-siakan apalagi dalam even ini beberapa Sultan dari lain daerah juga hadir. Saya siapkan kamera digital merek Canon tipe IXUS 220 HS dan handycam merek Sony 42x Extended Zoom. Jam 13.00 saya sudah siap di dermaga depan Hotel Assoy Tanjung Selor ternyata Datu Abdul Hamid bersama para Sultan yang diundang didampingi oleh Bapak Wakil Bupati serta pejabat pemerintah daerah sedang menyeberang Sungai Kayan menuju ke museum Kesultanan Bulungan.
Diiringi musik tradisional Jawa langkah-langkah para undangan terlihat gemontai memasuki pintu gerbang  balai adat. Berpuluh-puluh puteri gadis dari Kesultanan Bulungan dengan kostum seragam berwarna kuning dan seragam berwarna pink memegang payung kuning mengiri orang perorang tiap tamu undangan menuju museum Kesultanan Bulungan.
Lebih kurang sepuluh meter dari tangga naik balai adat, Datu Abdul Hamid beserta para tamu undangan berkesempatan ambil gambar/poto bersama. Seorang sultan dengan ciri khas tongkat komando di tangan kirinya adalah Sultan Demak yang diberi gelar DYMM Sri Sultan Surya Alam Joyokusumo. Adapun ciri khas Sultan Kutai Kertanegara adalah terletak pada peci hitam dengan lambang kesultanannya. Menurut penjelasan dari ibu Lestari Siska Dewi, A.Md. (kerabat Sultan Bulungan) bahwa yang hadir dari Kesultanan Kutai Kertanegara adalah Putra Sultan.
Ketika memasuki museum Kesultanan Bulungan mulailah Datu Abdul Hamid berkisah sambil menunjukkan gambar gambar/foto yang terpampang di dalam museum. Beliau menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Djalaludin ketika berintegrasi dengan Republik Indonesia yang pada saat itu kekurangan uang maka Sultan Maulana Muhammad Djalaludin menjamin obligasinya. Seusai penjelasan para tamu undangan dipersilahkan untuk mengambil sendiri sajian makan siang yang telah disiapkan di dalam museum.
Setelah selesai acara makan bersama di museum selanjutnya para tamu undangan dipersilahkan ke balai adat Kesultanan Bulungan. Para tamu undangan duduk berjajar bersila menghadap perangkat ritual. Upacara ritual diselenggarakan dengan maksud melestarikan budaya tradisi Kesultanan ketika hendak melaksanakan hajat besar seperti acara Birau pada saat sekarang ini. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hajat besar dapat diselenggarakan dengan baik, sukses, dan lancar. dijauhkan dari segala macam gangguan serta mendapatkan berkah melimpah khususnya bagi masyarakat Kabupaten Bulungan.
Miniatur rumah-rumah cantik, lumbung padi, perahu megah semuanya adalah gambaran sesuatu yang menjadi harapan atau menjadi keinginan rakyat Bulungan sepanjang masa. Dalam ritual dibawakan oleh seorang nenek yang sudah banyak berpengalaman merasakan pahit getirnya hidup didampingi oleh seorang wanita paruh baya yang menyiapkan segala sesaji dalam ritual. 
Sebelum tamu undangan meninggalkan balai adat dan museum Kesultanan Bulungan masih berkesempatan pula untuk foto bersama di depan balai adat Kesultanan. Sultan Jambi terakhir, Raden Abdurrahman Thaha Syaifudin tampak gagah dengan selempang hijau dan keris pusakanya. Semua tamu undangan dan pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Bulungan tersenyum lega karena acara ritual telah baru saja dilalui. Selamat Ulang Tahun ke 222 kota Tanjung Selor Selamat Ulang Tahun ke 52 Kabupaten Bulungan.

Jumat, 06 April 2012

KESULTANAN BULUNGAN BERINTEGRASI KE DALAM NKRI

Ketika saya berkunjung ke Museum Kesultanan Bulungan pada hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2012 kebetulan Datu Abdul Hamid (Ketua Dewan Kesultanan) sedang bersiap diri untuk menghadiri undangan Seminar di Jakarta. Kesempatan yang baik untuk mendengarkan penjelasan tentang bagaimana Kesultanan Bulungan berintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut ini adalah transkripsi penuturan beliau:

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Bagaimana Kesultanan Bulungan ini berintegrasi dengan Republik Indonesia. Pertama-tama Indonesia merdeka tahun 1945 di Jakarta, Kalimantan termasuk Bulungan ini masih belum merdeka. Pada waktu itu masih dipegang Kesultanan Bulungan tapi api kemerdekaan tetap berjolak di sini sehingga Sultan dulu memerintahkan Perdana Menteri I Datuk Bendahara Raja mengikuti konferensi Malino tahun 1946 (kalau ndak salah). Nah di situ banyak Raja Raja yang ada di daerah-daerah Timur termasuk Sulawesi, Bali ke Timur itu berkumpul di provinsi Malino. Nah, pada saat itu Kerajaan Bulungan mewakili selain Kerajaan Bulungan, Tanah Tidung, Sambaliung dan Gunung Tabur. Nah, pada saat itu Kerajaan Bulungan betul betul berhasrat ingin bergabung dengan Rapublik di Jakarta. Saat itu konferensi itu gagal karena Belanda saat itu ingin konferensi itu mendirikan RIS. Nah mungkin kalau dengan berdirinya RIS itu Belanda berharap akan masih memegang negara ini terpisah dari Republik Indonesia yang sudah merdeka Sumatra dan Jawa. Nah, karena kegagalan tersebut diulangai lagi di konferensi Denpasar. Sama Kerajaan Bulungan, Tanah Tidung, Sambaliung dan Gunung Tabur ingin bergabung. Gagal juga, terakhir Konferensi Meja Bundar. Kerajaan Bulungan tetap memutuskan perdana menterinya Datu Bendahara Raja sampai di Balikpapan Datu Bendahara sakit dan diganti oleh Doktor Sendok seorang Belanda yang pro kemerdekaan. Beliau mewakili sama Bulungan dan lain-lainnya untuk bergabung dengan republik. Nah setelah final merdekalah Kalimantan Timur ini Sulawesi dan Bali. Maka pada tanggal 17 Agustus 1949 dinaikkanlah bendera sang merah putih di depan istana yang pada malam harinya sebelum kiskonery itu diinspeksi oleh Sultan Bulugan dengan Datu Bendahara melihat tali temalinya apa sudah layak pakai pada saat itu. Nah pada pagi pagi jam 06.00 pagi dinaikkanlah bendera itu di depan istana sebelah kiri di depan rumah adat setelah itu dinaikkan baru upacaranya dilaksanakan di rumah istana II. Nah kalau kita mau tahu istana II ini gambarnya saya akan tunjukkan (sambil menunjukkan gambar/foto pada dinding) ini adalah istana II. Ini kita lihat masyarakat Bulungan saat itu antusias menyaksikan peringatan hari 17 Agustus 1949 di istana III Kerajaan Bulungan. Sedangkan yang menghadiri dari pada acara ini adalah Sultan Bulungan sendiri beliau adalah Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin yang saya tunjuk ini (sambil menunjuk gambar/foto) foto beliau dan sebelah kiri beliau adalah Perdana Menteri ke-3 Datu Laksamana sebagai menantu beliau juga. Ini gambar di istana II sedangkan di halaman itu ya gambar yang di yang kita lihat tadi nah sedangkan gambar lain dari pada ini adalah (berjalan menuju dinding masuk sebelah kiri) sedangkan foto gambar dari depan istana II ini - saat merayakan kenaikan bendera 17 Agustus 1949 pertama tama di Kerajaan Bulungan maka merdekalah Bulungan dari penjajahan Belanda.”


Senin, 13 Februari 2012

Pengalaman Transfer Melalui Western Union

The Western Union Company adalah merupakan sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Greenwood Village, Colorado. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1851. Informasi ini baru saya temukan di wikipedia setelah adanya pemberitahuan dari Eko Prayitno yang beralamat di Baszley Bee Basrah Bee, Sekolah Sains Sosial, Universiti Malaysia Sabah, Beg Berkunci 2073, 88999, Kota Kinabalu, Sabah. Dalam sms Eko memberitahu saya bahwa ia telah mengirim uang kepada saya melalui Western Union.Ini adalah kesempatan dan pengalaman baru bagi saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang Western Union. Keesokan harinya saya pergi ke sebuah Bank di Tanjung Selor yang terdapat tulisan "Western Union" ternyata Bank Danamon. Ketika saya sampaikan maksud kedatangan saya untuk mengambil kiriman uang melalui Western Union dari Sabah, saya dipersilahkan duduk dan diminta untuk memberikan kartu tanda pengenal (KTP).
Padahal saya tidak punya tabungan di Bank Danamon. Saya berpikir dan bertanya dalam hati, apakah bisa saya dilayani ? Ternyata dengan ramah tamah kedatangan saya disambut oleh petugas Bank. KTP saya yang baru saja dipinjam untuk di copy kini dikembalikan, dan saya ditanya berapa nomor kontrol pengiriman uang. Nomor yang dimaksud adalah MTCN (Money Transfer Control Number) yang diberikan Eko melalui sms-nya. Setelah saya sebutkan nomor sebagamana tercantum pada sms Eko, tidak lama kemudian saya diberi semacam nota untuk mengambil uang di kasir.
Eko adalah seorang mahasiswa pada Universitas Sabah di kota Kinabalu yang sedang melakukan penelitian tentang Kesultanan Bulungan. Ia meminta saya untuk mengirimkan copy-buku yang berkaitan dengan Kesultanan Bulungan dan copy buku-buku yang diperlukannya telah saya kirimkan melalui POS dan JNE.

Senin, 02 Januari 2012

RENCANA PENELITIAN

Ada beberapa titik di wilayah Bulungan yang ditandai sebagai tempat makom para sultan dan tokoh ulama terkenal. Titik titik tersebut sebagian telah diidentifikasi oleh peneliti sejarah dari Balai Arkeologi Banjarmasin maupun perorangan. Untuk keperluan pemetaan wilayah situs sejarah, identifikasi mengenai koordinat titik sangat diperlukan. Jika koordinat titik-titik situs telah diketahui maka dengan menggunakan aplikasi GoogleEarth akan dengan cepat dapat diketemukan posisinya dalam peta serta dapat diketahui jarak antar titik-titik tersebut.
Bertolak dari latar belakang tersebut maka saya sebagai penulis dan peneliti yang tinggal di wilayah Bulungan akan melakukan identifikasi pada titik-titik situs yang belum teridentifikasi. Dengan demikian identifikasi yang saya lakukan adalah bersifat melengkapi. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui arah bujur makom yang sama sekali belum teridentifikasi. Alat yang digunakan untuk mengetahui arah bujur makom adalah kompas. Pentingnya mengetahui arah bujur makom adalah untuk mendukung dugaan adanya pergeseran permukaan bumi yang disebabkan oleh salah satu kemungkinannya adalah gempa bumi.
Dasar pemikirannya adalah bahwa posisi makom sultan dan ulama diatur berdasarkan syariat Islam. Semua makom umat Islam di Indonesia membujur ke arah dari Utara-Timur Laut ke arah Selatan-Barat Daya. Jika dikonversikan dalam bentuk derajat (khusus di wailayah Bulungan) maka menjadi arah 21º31’ ke arah 201º31’.
Mudah-mudahan rencana ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga akan dapat segera kita lihat hasilnya bersama di situs ini. Amien.

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...