Jumat, 06 April 2012

KESULTANAN BULUNGAN BERINTEGRASI KE DALAM NKRI

Ketika saya berkunjung ke Museum Kesultanan Bulungan pada hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2012 kebetulan Datu Abdul Hamid (Ketua Dewan Kesultanan) sedang bersiap diri untuk menghadiri undangan Seminar di Jakarta. Kesempatan yang baik untuk mendengarkan penjelasan tentang bagaimana Kesultanan Bulungan berintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut ini adalah transkripsi penuturan beliau:

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Bagaimana Kesultanan Bulungan ini berintegrasi dengan Republik Indonesia. Pertama-tama Indonesia merdeka tahun 1945 di Jakarta, Kalimantan termasuk Bulungan ini masih belum merdeka. Pada waktu itu masih dipegang Kesultanan Bulungan tapi api kemerdekaan tetap berjolak di sini sehingga Sultan dulu memerintahkan Perdana Menteri I Datuk Bendahara Raja mengikuti konferensi Malino tahun 1946 (kalau ndak salah). Nah di situ banyak Raja Raja yang ada di daerah-daerah Timur termasuk Sulawesi, Bali ke Timur itu berkumpul di provinsi Malino. Nah, pada saat itu Kerajaan Bulungan mewakili selain Kerajaan Bulungan, Tanah Tidung, Sambaliung dan Gunung Tabur. Nah, pada saat itu Kerajaan Bulungan betul betul berhasrat ingin bergabung dengan Rapublik di Jakarta. Saat itu konferensi itu gagal karena Belanda saat itu ingin konferensi itu mendirikan RIS. Nah mungkin kalau dengan berdirinya RIS itu Belanda berharap akan masih memegang negara ini terpisah dari Republik Indonesia yang sudah merdeka Sumatra dan Jawa. Nah, karena kegagalan tersebut diulangai lagi di konferensi Denpasar. Sama Kerajaan Bulungan, Tanah Tidung, Sambaliung dan Gunung Tabur ingin bergabung. Gagal juga, terakhir Konferensi Meja Bundar. Kerajaan Bulungan tetap memutuskan perdana menterinya Datu Bendahara Raja sampai di Balikpapan Datu Bendahara sakit dan diganti oleh Doktor Sendok seorang Belanda yang pro kemerdekaan. Beliau mewakili sama Bulungan dan lain-lainnya untuk bergabung dengan republik. Nah setelah final merdekalah Kalimantan Timur ini Sulawesi dan Bali. Maka pada tanggal 17 Agustus 1949 dinaikkanlah bendera sang merah putih di depan istana yang pada malam harinya sebelum kiskonery itu diinspeksi oleh Sultan Bulugan dengan Datu Bendahara melihat tali temalinya apa sudah layak pakai pada saat itu. Nah pada pagi pagi jam 06.00 pagi dinaikkanlah bendera itu di depan istana sebelah kiri di depan rumah adat setelah itu dinaikkan baru upacaranya dilaksanakan di rumah istana II. Nah kalau kita mau tahu istana II ini gambarnya saya akan tunjukkan (sambil menunjukkan gambar/foto pada dinding) ini adalah istana II. Ini kita lihat masyarakat Bulungan saat itu antusias menyaksikan peringatan hari 17 Agustus 1949 di istana III Kerajaan Bulungan. Sedangkan yang menghadiri dari pada acara ini adalah Sultan Bulungan sendiri beliau adalah Sultan Maulana Muhammad Jalaluddin yang saya tunjuk ini (sambil menunjuk gambar/foto) foto beliau dan sebelah kiri beliau adalah Perdana Menteri ke-3 Datu Laksamana sebagai menantu beliau juga. Ini gambar di istana II sedangkan di halaman itu ya gambar yang di yang kita lihat tadi nah sedangkan gambar lain dari pada ini adalah (berjalan menuju dinding masuk sebelah kiri) sedangkan foto gambar dari depan istana II ini - saat merayakan kenaikan bendera 17 Agustus 1949 pertama tama di Kerajaan Bulungan maka merdekalah Bulungan dari penjajahan Belanda.”


PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...