Senin, 08 Oktober 2012

RITUAL BIRAU DI TANJUNG PALAS

Bersamaan waktunya dengan acara tasymiah putri pertama dari pasangan suami istri Ibu Naila Qonita dengan Bapak Abdul Azis HR di Tanjung Palas, saya diundang oleh Datu Abdul Hamid untuk mengikuti kegiatan ritual di balai adat sebelah museum Kesultanan Bulungan. 
Kesempatan yang bagus pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 ini sungguh tidak mungkin saya sia-siakan apalagi dalam even ini beberapa Sultan dari lain daerah juga hadir. Saya siapkan kamera digital merek Canon tipe IXUS 220 HS dan handycam merek Sony 42x Extended Zoom. Jam 13.00 saya sudah siap di dermaga depan Hotel Assoy Tanjung Selor ternyata Datu Abdul Hamid bersama para Sultan yang diundang didampingi oleh Bapak Wakil Bupati serta pejabat pemerintah daerah sedang menyeberang Sungai Kayan menuju ke museum Kesultanan Bulungan.
Diiringi musik tradisional Jawa langkah-langkah para undangan terlihat gemontai memasuki pintu gerbang  balai adat. Berpuluh-puluh puteri gadis dari Kesultanan Bulungan dengan kostum seragam berwarna kuning dan seragam berwarna pink memegang payung kuning mengiri orang perorang tiap tamu undangan menuju museum Kesultanan Bulungan.
Lebih kurang sepuluh meter dari tangga naik balai adat, Datu Abdul Hamid beserta para tamu undangan berkesempatan ambil gambar/poto bersama. Seorang sultan dengan ciri khas tongkat komando di tangan kirinya adalah Sultan Demak yang diberi gelar DYMM Sri Sultan Surya Alam Joyokusumo. Adapun ciri khas Sultan Kutai Kertanegara adalah terletak pada peci hitam dengan lambang kesultanannya. Menurut penjelasan dari ibu Lestari Siska Dewi, A.Md. (kerabat Sultan Bulungan) bahwa yang hadir dari Kesultanan Kutai Kertanegara adalah Putra Sultan.
Ketika memasuki museum Kesultanan Bulungan mulailah Datu Abdul Hamid berkisah sambil menunjukkan gambar gambar/foto yang terpampang di dalam museum. Beliau menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Djalaludin ketika berintegrasi dengan Republik Indonesia yang pada saat itu kekurangan uang maka Sultan Maulana Muhammad Djalaludin menjamin obligasinya. Seusai penjelasan para tamu undangan dipersilahkan untuk mengambil sendiri sajian makan siang yang telah disiapkan di dalam museum.
Setelah selesai acara makan bersama di museum selanjutnya para tamu undangan dipersilahkan ke balai adat Kesultanan Bulungan. Para tamu undangan duduk berjajar bersila menghadap perangkat ritual. Upacara ritual diselenggarakan dengan maksud melestarikan budaya tradisi Kesultanan ketika hendak melaksanakan hajat besar seperti acara Birau pada saat sekarang ini. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hajat besar dapat diselenggarakan dengan baik, sukses, dan lancar. dijauhkan dari segala macam gangguan serta mendapatkan berkah melimpah khususnya bagi masyarakat Kabupaten Bulungan.
Miniatur rumah-rumah cantik, lumbung padi, perahu megah semuanya adalah gambaran sesuatu yang menjadi harapan atau menjadi keinginan rakyat Bulungan sepanjang masa. Dalam ritual dibawakan oleh seorang nenek yang sudah banyak berpengalaman merasakan pahit getirnya hidup didampingi oleh seorang wanita paruh baya yang menyiapkan segala sesaji dalam ritual. 
Sebelum tamu undangan meninggalkan balai adat dan museum Kesultanan Bulungan masih berkesempatan pula untuk foto bersama di depan balai adat Kesultanan. Sultan Jambi terakhir, Raden Abdurrahman Thaha Syaifudin tampak gagah dengan selempang hijau dan keris pusakanya. Semua tamu undangan dan pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Bulungan tersenyum lega karena acara ritual telah baru saja dilalui. Selamat Ulang Tahun ke 222 kota Tanjung Selor Selamat Ulang Tahun ke 52 Kabupaten Bulungan.

Tidak ada komentar:

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...