Minggu, 14 Juli 2013

METRO TV : MERAH DI LANGIT BULUNGAN (I)

Ada 7 episode film dokumenter yang diproduksi oleh Metro TV. Selain ditayangkan di Televisi - film yang berdurasi masing masing 3,5 menit tersebut bisa diakses secara bebas oleh publik. Pada episode I tokoh tokoh yang ditampilkan adalah : Abdul Kadir A. Gani sebagai saksi sejarah. Beliau mengetahui banyak tentara yang datang namun tidak tahu tujuannya dan ketika Istana dibongkar sudah dalam keadaan kosong tidak berpenghuni. Tokoh berikutnya adalah : H. Datuk Dissan sebagai Raja Muda Bulungan. Beliau menjelaskan bahwa alasan pembongkaran istana Bulungan karena membelot - bergabung dengan Malaysia. Tokoh berikutnya lagi adalah : H. Datuk Rahmansyah Trenggana selaku mantan Camat Tanjung Palas. Beliau mengusulkan agar penghancuran Istana Bulungan tidak menggunakan dinamit karena rumah rumah rakyat akan ikut menjadi hancur. Tokoh : Tengku Ibrahim selaku keluarga Kerajaan Bulungan menjelaskan bahwa masyarakat diikutsertakan dalam penghancuran Istana dan bagi mereka yang tidak ikut menghancurkan dianggap terlibat gerakan subversif. Film tersebut menggambarkan suasana mencekam di Kesultanan Bulungan pada tahun 1964.

klik UNDUH untuk mendapatkan copy film.
1. Film episode 1 - UNDUH
2. Film episode 2 - UNDUH
3. Film episode 3 - UNDUH
4. Film episode 4 - UNDUH
5. Film episode 5 - UNDUH
6. Film episode 6 - UNDUH
7. Film episode 7 - UNDUH

Sabtu, 02 Maret 2013

KISAH TENTANG BUSI

Dua buah benda menyerupai guci yang tersimpan di museum  Kesultanan Bulungan diselimuti kain warna kuning dan pada bagian atasnya dilapisi kain warna orange dengan ikatan warna kuning pada lehernya diberi kertas buffalow warna biru yang dilipat tiga dan tertulis di dalamnya kata "BUSI". Datu Abdul Hamid menunjuk benda benda tersebut seraya menjelaskan duplikat yang diberikan kepada saya sebagai penghargaan dan kenang-kenangan dari Kesultanan Bulungan. Seharusnya duplikat tersebut telah diberikan kepada saya pada saat acara Birau bulan Oktober tahun 2012 akan tetapi oleh karena saya tidak hadir pada waktu itu maka baru pada tanggal 03-02-2013 penghargaan dan kenangan tersebut diberikan di museum Kesultanan Bulungan.
Inilah duplikat Busi yang diberikan kepada saya sebagai penghargaan dan kenangan dari Kesultanan Bulungan. Duplikat tersebut terbuat dari batu pualam dihiasi sebuah pita berwarna kuning yang diikatkan pada leher penutupnya. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Datu Abdul Hamid yang telah memberikan penghargaan dan kenangan tersebut. Sayang sekali Beliau tidak banyak mengkisahkan tentang dua buah benda menyerupai guci yang saat ini disimpan di museum Kesultanan Bulungan. Akhirnya pada kesempatan lain (28 Februari 2013) saya datang lagi ke museum Kesultanan Bulungan untuk meminta penjelasan kepada Datu Berahim, salah satu kerabat Sultan yang tinggal di museum dan bertugas menjaga benda-benda purbakala di dalamnya.
Dua buah benda menyerupai Guci yang disimpan di dalam museum dulunya ditemukan oleh seseorang yang tidak diketahui namanya. Benda-benda tersebut ketika ditemukan sedang menangis sambil berjalan ke Hilir dan kemudian kembali ke Hulu. Setelah ditangkap oleh seseorang kemudian diserahkan kepada Sultan benda benda tersebut sudah tidak menangis lagi. Demikianlah kisah yang disampaikan oleh Datu Berahim.

Sumber:
1). Wawancara dengan Datu Abdul Hamid (3 Februari 2013)
2). Wawancara dengan Datu Berahim (28 Februari 2013)
3). Dua buah benda menyerupai Guci di museum Kesultanan Bulungan.

PASPOR SULTAN BULUNGAN 1938

Ini adalah Paspor milik Sultan Maulana Muhammad Djalaloeddin yang lahir di Tanjung Palas tanggal 13 Juli 1884. Tanggal kelahiran tersebut...